Renungan anak yang kini sudah tua
Aku bukan penyanyi,
hanya lelaki yang kadang bernyanyi
agar sunyi tidak terlalu bising.
Aku bukan penulis besar,
hanya tangan yang ingin menuliskan
apa yang bergetar di dalam dada
sebelum ia mengendap menjadi sepi.
Usiaku menua,
tapi rinduku tetap muda—
rindu pada ayah
yang tak banyak bicara
namun hatinya luas
seperti halaman rumah
yang selalu cukup
untuk semua keluarga.
Aku anak kesayangannya—
atau mungkin hanya merasa begitu,
dan perasaan itu
sudah cukup menjadi rumah.
Kini aku tak perlu menjadi hebat
di mata dunia.
Cukuplah aku menjaga
cara berpikir,
cara berempati,
cara membersihkan hati
seperti yang diam-diam beliau ajarkan.
Kadang suaraku tak sejernih dulu.
Kadang kalimatku tak selugas dulu.
Tapi selama nurani masih ingin bersuara,
aku tahu aku belum benar-benar hilang.
Aku tak ingin bergantung pada tepuk tangan.
Tak ingin sibuk membuktikan.
Aku hanya ingin
mengingat Allah dengan tenang,
menyanyi bila rindu datang,
menulis bila hati penuh,
dan berdiskusi bila pikiran ingin berjalan.
Jika suatu hari suaraku melemah,
biarlah.
Selama niatku tetap lembut,
semoga langkahku masih diridhai.
Aku tidak mengejar apa-apa lagi
kecuali akhir yang baik—
dan hati yang tetap bersih
hingga pulang.
Jakaeta Malam jelang ramadhan 2026



Komentar