Oom Bob Sadino seperti yang kukenal
*Oom Bob Sadino, Seperti yang Kukenal*
Bob Sadino dikenal luas sebagai sosok wirausahawan dengan intuisi tajam dan etos kerja yang luar biasa. Ia dipanggil “Oom Bob” oleh semua anak buahnya—dan bagiku, panggilan itu bukan hanya simbol hormat, tapi juga keluarga. Ia memang pamanku, karena kakaknya menikah dengan adik ibuku.
Aku mulai bekerja bersamanya segera setelah lulus pada tahun 1974, sebagai sarjana pertama di lingkungan itu. Saat itu, Kemchicks baru seukuran mini market—belum sebesar sekarang, bahkan bisa dibilang seperti versi awal dari Indomaret.
Tapi Oom Bob tak pernah peduli soal gelar. Ia benar-benar membuktikan bahwa kesarjanaan tak membuatmu otomatis pantas memimpin. Semua karyawan diminta memulai dari bawah—mengoperasikan alat, membersihkan ruangan, sebelum naik jadi supervisor.
Salah satu proyek besar pertama yang kuikuti adalah pembangunan pabrik olahan daging modern pertama di Indonesia. Uniknya, desain dan pelaksanaannya dilakukan tanpa melibatkan tenaga asing sedikit pun. Semua kami rancang sendiri.
Tahun itu, aku baru saja lulus kuliah.
Masih segar sebagai sarjana, tanpa pengalaman lapangan. Tapi entah kenapa, aku diberi kepercayaan besar: ikut Oom Bob ke Jerman untuk mencari mesin bagi pabrik baru kami.
Di sana, aku bertemu tim konsultan lokal. Harusnya aku minder—mereka bule, berpengalaman, dan senior. Tapi setelah beberapa sesi diskusi, aku justru kecewa. Mereka tak benar-benar paham gagasan yang kumaksud.
Mesin yang ditawarkan terlalu besar skalanya, tak cocok untuk pasar Indonesia yang masih merintis.
Malamnya, aku mengadu ke Oom Bob. Kukira ia akan membela para ahli, atau minimal netral. Tapi jawabannya mengejutkanku—
Dengan tenang ia berkata pada partner kami,
*“Menurut ahli saya, konsultan kalian bodoh. Harus diganti.”*
Aku terperangah. Tapi juga merasa dihargai.
Dan sejak itu, semua berubah.
Para mitra mulai melihat tim kami dengan hormat. Tak ada lagi anggapan kami cuma anak bawang dari negeri berkembang.
Dari momen itulah, aku belajar dua hal besar:
Bahwa kepercayaan bisa mengubah rasa takut jadi keberanian.
Dan bahwa Oom Bob bukan sekadar bos—
Ia adalah pemimpin yang tahu kapan harus diam,
dan kapan harus berdiri di belakang anak buahnya sepenuh hati.
*Ketika Ayam Jadi Masalah, dan Oom Bob Menjadikannya Peluang*
Harga ayam hidup memang aneh—naik-turun tak menentu.
Yang lebih parah, saat turun, harganya bisa di bawah HPP (harga pokok produksi). Artinya? Dijual rugi.
Tapi kalau tidak dijual, ayam tetap harus diberi makan. Dan jika terlalu besar, justru makin tak laku.
Oom Bob pernah bilang sambil setengah kesal:
*“Ini ayam waktu kecil kita kasih makan. Sekarang udah gede malah makan kita.”*
Waktu itu, aku usul: semua ayam kita potong, bekukan, dan simpan di cold storage.
Kita jual nanti saat harga naik—biasanya tak lebih dari 6–8 minggu (masa pemeliharaan dari DOC ke ayam potong).
Karena kalau harga hancur, para peternak lain pasti berhenti produksi, dan pasokan akan turun.
*Di situlah kesempatan.*
Oom Bob tak perlu waktu lama untuk menyetujui.
Mesin pembeku kita punya. Gudang tambahan langsung disewa. Bahkan, dalam waktu kurang dari 8 minggu, ayam beku itu bisa dijual kembali dengan harga di atas HPP. Tidak hanya menutup rugi, tapi justru *untung.*
Dari situ aku melihat betul:
*Oom Bob bukan hanya mendengar—tapi juga bisa “mencium” arah peluang.*
Ia cepat, tegas, dan percaya pada intuisi... termasuk intuisi anak buahnya.
Ia *tak sibuk sok pintar, tapi sibuk mencari solusi.*
**Konsumen Adalah Guru: Belajar Bisnis dari Pasar Ekspatriat*
*Konsumen Adalah Guru: Belajar Bisnis dari Pasar Ekspatriat*
Oom Bob tidak belajar dari teori—dia belajar dari *orang.* Termasuk dari para ekspatriat yang menjadi pelanggannya.
Saat mendengar keluhan mereka tentang barang-barang yang sulit didapat di Indonesia, Oom Bob tak tinggal diam.
Kalau belum ada, dia cari. Kalau tak bisa diimpor, dia *minta kami buat.* Bahkan untuk hal-hal yang sangat khas negeri mereka.
*Sayur?* Dia tanam jenis yang mereka mau.
*Daging?* Dia potong sesuai standar mereka—sirloin, tenderloin, bahkan sampai *aging meat* yang saat itu belum populer di Indonesia.
Aku, yang waktu itu anak buah sekaligus baru lulus kuliah, diberi kepercayaan untuk mencoba bikin *aged meat.*
Belum sempat diajarkan di kampus, aku langsung belajar dari literatur luar, dan kami buat dari daging lokal.
*Hasilnya?* Konsumen ekspatriat senang. Mereka mendapatkan kualitas internasional dari tangan orang Indonesia sendiri.
*Dan inilah pelajaran paling berharga dari Oom Bob:*
*Konsumen adalah guru.*
Inovasi datang dari *mendengarkan*, bukan sekadar membayangkan.
*Bukan Sekadar Pengusaha, Tapi Pelopor*
Oom Bob tak peduli apakah kamu sarjana atau bukan.
Yang dia nilai adalah: *bisakah kamu mencoba, gagal, dan mencoba lagi?*
Dia tak tunggu kamu jadi ahli—karena menurutnya, *menjadi pelaku jauh lebih penting daripada sekadar pengamat.*
Oom Bob Sadino memang bukan hanya pengusaha... tapi *pelopor.*
*“Langganan Itu Raja—Tapi Raja yang Bisa Kita Atur”*
Oom Bob sering mengingatkan kami:
*“Langganan itu raja.”*
Tapi ia menambahkan dengan senyum khasnya:
*“…tapi raja yang bisa kita atur.”*
Artinya bukan mempermainkan, tapi *membangun relasi.* Konsumen dihormati, entah dia ekspatriat, warga lokal, atau bahkan pembantu rumah tangga mereka.
Karena menurut Oom Bob, yang datang belanja mungkin *hanya ART-nya atau asisten rumah tangga*,
tapi yang akan mencicipi dan memutuskan kualitas adalah *si majikan.*
Menurut Oom Bob, yang datang belanja mungkin hanya pet-nya atau asisten rumah tangga,
*tapi uang yang dibelanjakan tetap uang majikan.*
Dan mereka semua adalah perpanjangan tangan pelanggan yang harus kita layani dengan hormat.
Kami bisa dimarahi jika melayani pembantu dengan setengah hati.
*Oom Bob tak mau ada pelanggan merasa dibeda-bedakan.*
Baginya, pelayanan bukan basa-basi—*tapi strategi.*
Ketika pelanggan merasa dihargai, dia akan kembali.
Dan saat hubungan sudah akrab,
di situlah “raja” bisa “diatur”—
*dalam arti diberi edukasi, diarahkan memilih produk terbaik, dan akhirnya justru memberi keuntungan yang lebih baik untuk semua.*
*“Hygiene Adalah Budaya Bisnis”*
Di tahun 1975, bicara soal standar kebersihan mungkin masih dianggap mewah di pasar-pasar Indonesia.
Tapi Oom Bob sudah berpikir jauh ke depan.
*Baginya, kebersihan bukan hanya soal kesehatan, tapi juga soal kepercayaan.*
Saya masih ingat betul, beliau sangat keras soal ini.
Tidak boleh ada barang terlalu lama di luar pendingin.
Tidak boleh ada koran membungkus daging atau menempel di dinding dekat produk.
*Toko harus bersih, terang, dan berbau segar*—standar yang saat itu bahkan belum terpikir oleh toko-toko modern.
Ia bilang,
*“Jualan kita boleh lokal, tapi pelayanannya harus dunia.”*
Dan hasilnya?
Ekspariat dari berbagai negara belanja di tempat kami.
*Bukan karena harga, tapi karena mereka percaya*—hanya di tempat ini mereka merasa aman, bersih, dan nyaman.
Pasar tradisional jorok, harga murah pun tak menarik.
*Tapi tempat yang bersih… pelanggan rela bayar lebih.*
*Dari Oom Bob, saya belajar:*
Kepercayaan itu mahal, dan *kebersihan adalah modal untuk meraihnya.*
*Jualan harus tuntas*—bukan cuma sampai barang dikirim, tapi *sampai dibayar lunas.*
*“Salesman atau Tukang Alasan?”*
Oom Bob tidak pernah main-main soal urusan penjualan.
Baginya, *sales bukan sekadar tukang bawa order*, tapi ujung tombak *reputasi perusahaan.*
Saya masih ingat kata-katanya yang meledak penuh emosi:
*“Kalau jualan tapi nggak bisa ditagih, buang aja tuh barang ke kali! Jangan ngaku punya salesman!”*
Ia sangat tegas soal satu hal: jualan tanpa kendali tagihan bukan bisnis, tapi bunuh diri.
Lebih baik kehilangan order daripada kehilangan kepercayaan dan cash flow.
Lalu, ia mengajarkan saya membedakan dua tipe salesman:
1. Salesman yang pulang bawa order.
2. Salesman yang pulang bawa komplain.
Yang kedua ini yang beliau paling benci:
Salesman yang tak berhasil jualan, lalu balik bawa alasan, menyalahkan produk, menyalahkan harga, bahkan menyalahkan pelanggan.
Padahal masalahnya bukan di barang—*tapi di kemampuannya menjual.*
Oom Bob percaya:
Kalau kita sendiri tak percaya produk kita bagus, bagaimana orang lain mau beli?
Dari beliau, saya belajar bahwa menjadi salesman bukan soal bicara manis, tapi soal tanggung jawab.
Kesimpulannya, bisnis bukan hanya soal produk atau harga, tapi soal kepercayaan dan tanggung jawab. Kebersihan dan integritas dalam pelayanan adalah pondasi utama membangun kepercayaan itu. Dari Oom Bob, saya belajar bahwa menjadi pebisnis atau salesman sejati berarti berani bertanggung jawab penuh, bahkan siap merugi, menjaga reputasi, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pelanggan. Karena pada akhirnya, kepercayaan pelanggan adalah aset paling berharga yang harus dijaga dengan sepenuh hati.


Komentar