Ben Cao Tang
Ben Cao Tang 😄😄😄 Pagi itu aku berangkat ke Kelapa Gading. Tujuannya bukan mal, bukan mencari diskon, bukan pula berburu kopi kekinian. Aku menuju sebuah tempat pengobatan tradisional Tionghoa. Namanya cukup gagah di telinga: Ben Cao Tang. Mengapa aku tertarik? Karena tubuhku dan obat-obatan modern akhir-akhir ini seperti pasangan yang sedang menjalani hubungan rumit. Di satu sisi, obat nyeri membantu meredakan penderitaan akibat iritasi saraf dan kemungkinan saraf skiatika terjepit. Di sisi lain, setiap kali melihat hasil laboratorium, aku merasa ginjalku ikut mengeluh. Aku jadi hafal istilah yang dulu terasa asing: kreatinin dan eGFR. Katanya sederhana. Kreatinin naik, eGFR turun eGFR normal berada di atas 80. Aku pernah menyentuh angka 20. Dua puluh! Ibarat perjalanan hidup, itu bukan lagi lampu kuning. Itu sudah lampu merah yang berkedip-kedip. Jika eGFR turun sampai sekitar 15, seseorang sudah masuk kategori gagal ginjal. Jadi ketika angka milikku pernah berada di 20, aku m...

















