MBG belum selektip, resiko gagal sasaran
MBG belum selektip dan juga belum ada jaminan bahwa anggaran 10 rb benar masuk seluruhnya untuk jadi makanan bergizi, tidak disewengkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ramai dibicarakan. Ide dasarnya tentu mulia: memberi anak-anak sekolah tambahan gizi agar tumbuh sehat dan cerdas. Namun, pertanyaan penting muncul—apakah program ini benar-benar relevan untuk semua, atau justru lebih efektif bila lebih selektif? Mari kita lihat kenyataan di lapangan. Anak SMA, misalnya, sudah melewati fase pertumbuhan kritis. Tambahan nutrisi di usia ini tidak lagi signifikan untuk tinggi badan maupun kecerdasan. Di sekolah elite, anak-anak terbiasa membawa bekal bergizi dari rumah. Bagi mereka, MBG hanya jadi bonus, bukan kebutuhan. Sebaliknya, di keluarga miskin, porsi MBG yang hanya sekitar 30% dari kebutuhan harian sering tidak cukup. Apalagi jika dua kali makan di rumah kualitasnya rendah, maka dampak MBG bisa terasa sia-sia. Masalah lai...









