Tubuh melemah iman menguat
Kini aku belajar bahwa tubuh bukan lagi sahabat yang selalu patuh. Ia berjalan lebih lambat dari keinginanku, sembuh lebih lama dari harapanku. Dua puluh tahun lalu di sebuah kamar rumah sakit aku menyaksikan seorang anak muda datang dengan luka yang lebih berat dariku. Ia menerima transfusi, namun beberapa hari kemudian suaranya sudah terdengar riang bernyanyi di kamar mandi. Sementara aku— yang datang lebih dulu, yang sakitnya bahkan tak seberat itu— masih belum mampu mandi sendiri. Waktu berlalu. Kini usia menua. Setiap sakit terasa lebih panjang, setiap sembuh terasa lebih jauh. Ada saat hati hampir berkata: cukup. Namun putus asa selalu buntu jalannya. Ia tak membawa kita ke mana-mana. Maka aku bangkit lagi, meski perlahan. Kulihat dunia di sekelilingku begitu banyak yang lebih muda, namun memikul penderitaan yang bahkan lebih berat. Di sana aku belajar bahwa yang paling menyokong hidup bukanlah kekuatan tubuh, melainkan kesabaran dan iman yang tidak goyah. Ya, sakit yang panjang ...






















