Cipratan air dan Coca cola
Cipratan Air dan Coca-Cola Waktu kecil, sahur adalah peperangan kecil setiap dini hari. Bukan perang melawan lapar, tapi melawan kantuk. Selimut terasa lebih setia daripada panggilan dapur. Suara ayah sudah terdengar dari ruang tengah, lembut tapi tegas. “Bangun… sahur dulu.” Aku bergeming. Lalu jurus andalannya datang. Bukan marah. Bukan bentakan. Hanya segelas air di tangan, dan… byur! Cipratan kecil mendarat di wajahku. Aku tersentak. Kesal? Iya. Tapi manjur. Selalu manjur. Sejak umur sekitar sepuluh tahun, puasa menjadi kewajiban yang tak pernah lepas dari hidupku. Bahkan sebelum benar-benar paham maknanya, aku sudah menjalaninya. Diajari sedikit demi sedikit—setengah hari dulu, lalu penuh. Rasanya berat. Haus panjang, perut kosong, waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Tapi didikan itu menanamkan kebiasaan. Dan kebiasaan, lama-lama, menjadi bagian dari diri. Baru ketika dewasa aku menyadari: puasa terasa berat kalau hanya dijalani sebagai rutinitas. Ia menjadi ringan ket...









