SENJA PEMIKIRAN


SENJA PEMIKIRAN 

Ada seorang lelaki yang menganggap usianya sebagai bonus.

Ia lahir di akhir 1940-an, pada masa ketika hidup tidak semudah sekarang.

Statistik pada zamannya tidak ramah. Orang dengan kelahiran seperti dirinya memiliki harapan hidup hanya sekitar 60 puluhan.

Banyak  seangkatan ya yang tidak sampai enam puluh.

Di keluarganya sendiri, lelaki-lelaki jarang melewati tujuh puluh enam.

Namun ia kini berdiri di angka jelang 80 tahun

Ia tidak menyebutnya prestasi.

Ia menyebutnya tambahan waktu.

Lelaki itu pernah sakit keras.

Kondisi  kesehatan  pernah membuatnya berhenti kuliah  setahun. 

Demam tinggi dengan leukosit melonjak pernah mendekatkannya pada ruang rawat yang sunyi.

Infeksi, dehidrasi, berbagai peringatan tubuh pernah datang silih berganti.

Anehya, pada sakit-sakit besar itu ia tidak terlalu memikirkan kematian.

Ia sibuk bertahan.

Kini,  di senja usia ketika yang datang hanya nyeri sederhana di bokongnya,

ia justru banyak merenung termasuk hadapi kematian 

Barangkali karena sakit kecil memberi ruang berpikir

yang sakit besar tidak sempat beri.

Ia tidak menunggu kematian.

Baginya, menunggu kematian adalah kebodohan, karena ia selalu misteri.

Yang masuk akal hanyalah memperbaiki diri setiap hari.

Menjadi sedikit lebih sabar.

Sedikit lebih jernih.

Sedikit lebih lurus niatnya.

Di senja usia ia tidak ingin merepotkan anak-anaknya.

Bukan karena ia meragukan cinta mereka.

Ia tahu benar mereka siap menjual apa saja demi dirinya.

Justru karena ia tahu cinta itu besar,

ia ingin menggunakannya sehemat mungkin.

Baginya, doa tulus anak lebih mahal lebih berarti bagi bekal di alam sana


Ia bersyukur kini  ada sistem  bpjs yang menjamin biaya pengobatan.

Ia lebih rela dipastikan membayar iuran rutin daripada melihat masa depan cucunya terganggu karena harus membayar biaya penyembuhans Lakit seorang kakek yang sudah banyak menikmati hidup.

Namun ia juga tidak menolak takdir.

Jika harus sakit lama, ia siap.

Jika harus pulang cepat, ia pun siap.

Ia hanya berdoa agar akhir itu tidak terlalu menyulitkan siapa pun.

Lelaki itu pernah punya prinsip sederhana saat muda.

Menjelang ujian, teman-temannya begadang dengan kopi,

berharap soal esok bisa ditebak dengan belajar semalam suntuk.

Ia memilih tidur.

Baginya, belajar semalam tidak mengubah banyak belum tentu yang di pelajari malam  itu keluar jadi soal ujian.

kecuali jika seseorang memiliki bocoran soal.

Lebih baik belajar sepanjang semester,

lalu menghadapi ujian dengan tenang.

Kini ia memandang hidup dengan cara yang sama.

Soal ujian akhirat   bukan di tangannya.

Yang di tangannya hanya usaha menjaga niat.

Ia tidak merasa sudah baik.

Ia tidak merasa cukup.

Ia juga tidak sibuk menilai dirinya.

Penilaian manusia tidak ia anggap penting.

Bahkan penilaiannya sendiri pun ia ragukan.

Yang penting satu arah:

berjalan di jalan yang diridhai-Nya.

Ia sadar masa lalunya penuh salah.

Siapa yang hidup puluhan tahun tanpa noda?

Namun ia percaya pintu ampunan lebih besar

daripada daftar kesalahan.

Bagi lelaki itu, sakit bukan kutukan.

Ia adalah jeda.

Jeda untuk mengingat bahwa hidup rapuh.

Jeda untuk merapikan niat.

Jeda untuk membersihkan hati.

Usianya mungkin secara statistik berada di ujung kurva.

Tetapi selama napas masih ada,

ia menganggap setiap hari sebagai kesempatan kecil

untuk menjadi versi dirinya yang lebih baik.

Ia tidak mengejar panjang umur.

Ia mengejar kelurusan arah.

Dan jika suatu hari ia dipanggil,

ia berharap bukan sebagai orang yang merasa telah selesai,

melainkan sebagai orang yang sedang dan pernah  berusaha.


Dan malam itu ketika dia merenung dan   bercerita. Dia berharap yang mendengar ceritanya dapat mengambil manfaat memadukan pengalaman diri nya denga cerita nya, menuju  sikap hidup yang lebih baik. Dan jika itu terjadi dia akan tersenyum karena ceritanya bermanfaat 

Komentar

Postingan Populer