Cipratan air dan Coca cola
Cipratan Air dan Coca-Cola
Waktu kecil, sahur adalah peperangan kecil setiap dini hari. Bukan perang melawan lapar, tapi melawan kantuk. Selimut terasa lebih setia daripada panggilan dapur. Suara ayah sudah terdengar dari ruang tengah, lembut tapi tegas.
“Bangun… sahur dulu.”
Aku bergeming.
Lalu jurus andalannya datang. Bukan marah. Bukan bentakan. Hanya segelas air di tangan, dan… byur! Cipratan kecil mendarat di wajahku.
Aku tersentak. Kesal? Iya. Tapi manjur. Selalu manjur.
Sejak umur sekitar sepuluh tahun, puasa menjadi kewajiban yang tak pernah lepas dari hidupku. Bahkan sebelum benar-benar paham maknanya, aku sudah menjalaninya. Diajari sedikit demi sedikit—setengah hari dulu, lalu penuh. Rasanya berat. Haus panjang, perut kosong, waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.
Tapi didikan itu menanamkan kebiasaan. Dan kebiasaan, lama-lama, menjadi bagian dari diri.
Baru ketika dewasa aku menyadari: puasa terasa berat kalau hanya dijalani sebagai rutinitas. Ia menjadi ringan ketika disertai keyakinan bahwa ini adalah perintah-Nya. Ada makna di balik lapar. Ada pelajaran dalam dahaga. Bahkan ada manfaat bagi kesehatan tubuh, yang dulu tak pernah kupikirkan saat kecil.
Masa muda membawaku pada dunia kerja. Kadang tetap harus bekerja sampai malam di bulan puasa. Pernah suatu waktu, aku yang justru termasuk pimpinan kantor, kurang perhitungan. Jam berbuka tiba, tapi di sekitar kantor di Jakarta Pusat tak ada satu pun yang menjual makanan buka. Entah karena terlalu sepi, entah karena aku yang terlalu yakin semua akan mudah.
Akhirnya aku berbuka hanya dengan sebotol Coca-Cola dingin.
Saat itu terasa nikmat. Gelembung soda di tenggorokan seperti hadiah kecil setelah seharian menahan haus. Tapi kebahagiaan itu tak lama.
Perut kosong yang langsung diisi minuman bersoda memberontak. Lambungku seperti menegur keras: “Ini bukan yang kuminta.”
Perjalanan menyetir dari kantor di Jakarta Pusat pulang kerumah Jakarta Timur terasa panjang dan menyiksa. Mual datang bergelombang. Jalanan macet seperti tak punya belas kasihan. Sampai rumah, yang ada hanya satu: obat maag.
Itu pengalaman pahit. Pelajaran sederhana: perut kosong jangan diisi sembarangan. Lapar bukan alasan untuk gegabah.
Bulan puasa memang unik. Nikmatnya saat berbuka, sulit digambarkan. Segelas air putih dan kurma bisa terasa seperti pesta. Tapi beratnya justru sering ada di sahur—melawan kantuk, bangun ketika dunia masih gelap.
Namun lagi-lagi kusadari: tak ada yang benar-benar berat jika dilandasi niat dan iman.
Saat kecil, lebaran adalah kegembiraan murni. Banyak uang. Makanan enak. Baju baru. Dan yang paling menyenangkan: besoknya tak perlu sahur lagi. Cukup bangun saat subuh seperti biasa. Sederhana sekali bahagianya.
Tentang kesedihan berpisah dengan Ramadan seperti yang sering dirasakan banyak orang, jujur saja aku belum sepenuhnya mampu menghayatinya. Mungkin aku masih “kelas Islam abangan,” kataku pada diri sendiri sambil tersenyum. Toh aku selalu optimis Ramadan akan datang lagi.
Tapi kini, Ramadan bukan sekadar tentang lapar dan lebaran. Ia menjadi ruang kontemplasi. Aku mulai sering bertanya: apakah aku menjadi manusia yang lebih baik setelahnya? Ataukah biasa saja?
Aku suka menyebutnya: be a better version of me.
Aku pernah membaca, yang paling menentukan adalah bagaimana akhirnya. Lebih baik biasa saja di awal, tapi berakhir baik. Tentu yang terbaik adalah selalu baik. Tapi waktu tak bisa diputar balik. Masa lalu tak bisa diperbaiki, hanya bisa dipelajari.
Maka yang bisa kulakukan adalah hari ini lebih baik dari kemarin. Dan esok lebih baik dari hari ini.
Berjalan terus di muka bumi, berpikir, merenung, dan sebisanya berbuat sesuatu yang masih bermanfaat bagi orang lain. Bagiku itu juga bagian dari puasa—menahan diri dari salah, dan berani mengingatkan jika ada yang keliru. Menyerukan jalan yang lebih benar, meski dimulai dari diri sendiri.
Kadang aku tersenyum mengingat cipratan air ayah di wajahku.
Mungkin dari sana semua ini dimulai.
Dari segelas air yang membangun



Komentar