MBG belum selektip, resiko gagal sasaran

 



MBG belum selektip  dan juga belum ada jaminan bahwa  anggaran 10 rb benar masuk seluruhnya untuk jadi makanan bergizi, tidak disewengkan 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ramai dibicarakan. Ide dasarnya tentu mulia: memberi anak-anak sekolah tambahan gizi agar tumbuh sehat dan cerdas. Namun, pertanyaan penting muncul—apakah program ini benar-benar relevan untuk semua, atau justru lebih efektif bila lebih selektif?  


Mari kita lihat kenyataan di lapangan. Anak SMA, misalnya, sudah melewati fase pertumbuhan kritis. Tambahan nutrisi di usia ini tidak lagi signifikan untuk tinggi badan maupun kecerdasan. Di sekolah elite, anak-anak terbiasa membawa bekal bergizi dari rumah. Bagi mereka, MBG hanya jadi bonus, bukan kebutuhan. Sebaliknya, di keluarga miskin, porsi MBG yang hanya sekitar 30% dari kebutuhan harian sering tidak cukup. Apalagi jika dua kali makan di rumah kualitasnya rendah, maka dampak MBG bisa terasa sia-sia.  


Masalah lain adalah distribusi dan kualitas. Jika distribusi tidak merata, MBG lebih jadi simbol politik daripada solusi nyata. Jika menu tidak seimbang, nilai gizi tetap tipis. Dan jika program hanya berjalan jangka pendek, masalah gizi kronis tidak akan terselesaikan.  


Karena itu, ada usulan agar MBG lebih selektif: fokus hanya sampai tingkat SMP, terutama di sekolah dengan mayoritas murid dari keluarga menengah bawah. Benchmark internasional memberi pelajaran berharga. India, dengan populasi 1,5 miliar, hanya menjangkau sekitar 110 juta anak lewat program Mid Day Meal. China dan Amerika Serikat masing-masing sekitar 40 juta anak, padahal populasi mereka juga raksasa. Artinya, cakupan mereka jauh lebih selektif dibanding target Indonesia yang mencapai puluhan juta.  


Selain itu, kita perlu melihat opportunity cost. Dana besar MBG bisa saja lebih efektif bila sebagian dialihkan untuk memperbaiki mutu guru dan alat didik. Bukankah kualitas pengajaran langsung membuat anak lebih pintar, bukan sekadar tambahan porsi makan?  


Dan jangan lupa soal integritas anggaran. Jika food cost ditetapkan Rp10 ribu per anak per hari, bagaimana memastikan benar-benar dipakai untuk bahan makanan bergizi, bukan bocor di jalan? Mekanisme kontrol harus jelas: standar menu gizi, audit transparan, monitoring kualitas makanan, partisipasi orang tua, bahkan sistem digital untuk melacak distribusi. Tanpa itu, risiko besar adalah nilai gizi turun karena anggaran tidak sampai ke piring anak.  


Pada akhirnya, MBG bisa jadi program penting, tapi hanya bila tepat sasaran dan diawasi dengan baik. Selektif, fokus pada anak SMP dari keluarga menengah bawah, disertai kebijakan gizi keluarga yang lebih luas, serta pengawasan ketat anggaran. Tanpa itu, risiko besar program ini hanyalah simbol, bukan solusi.  

Komentar

Postingan Populer