Indahnya Sakit... Jika Kita Renungkan

 Indahnya sakit....... Jika Kita Renungkan



Dalam beberapa tahun terakhir, terutama 5 tahun terakhir terasa saya hidup bersama berbagai gangguan kesehatan. *Asma saya pernah cukup berat*, membuat napas terasa seperti melepaskan diri dari lilitan tali. Kini setelah rutin ditangani, keadaannya mulai membaik, tapi masih dalam skala menengah berat 


*Fungsi ginjal saya* juga pernah turun drastis. Hasil pemeriksaan pernah menunjukkan angka efgr 20. Dimana angka efgr 15 sudah gagal ginjal. Jadi hampir menyentuh batas gagal ginjal. Setelah satu tahun menjalani terapi dan memperbaiki pola hidup, nilainya perlahan naik jadi 35 masih dalam. Skala menengah berat . Tetap harus dijaga, agar tidak memburuk


*Sendi lutut saya* pun pernah dalam kondisi nyaris tidak bisa diajak kompromi. Rasa nyeri akibat osteoartritis sempat membuat saya hanya bisa berjalan dengan bantuan penyangga. Namun, alhamdulillah kini saya bisa kembali berjalan tanpa alat bantu, sebuah nikmat yang tak pernah saya sadari sebelumnya.


*Pendengaran saya di satu sisi nyaris hilang dan satu sisi lagi tersisa hanya 50 %.* Saya tidak pernah tahu pasti kapan dimulainya, tapi saya sadar dari dulu saya sulit menangkap pembicaraan, terutama di tengah keramaian. Ini membuat saya kerap merasa terasing dalam pergaulan. Mungkin karena itu saya lebih nyaman menyendiri dan merenung sambil Menulis di wa group. Itu jadi pengisi waktu ku paling mumgkin


*Indra penciuman saya* juga sempat hilang karena sinusitis kronis. Makan jadi terasa hambar, aroma tak lagi bermakna. Tapi kini sudah mulai pulih, walau belum sepenuhnya. Ada rasa syukur yang sederhana, tapi dalam, saat bisa mencium wangi makanan atau bau tanah setelah hujan.


Selain itu, *prostat yang pernah dioperasi kini menunjukkan tanda tumbuh kembali*, dan *katarak yang sudah diangkat pun perlahan muncul lagi*, sampai perlu  tindakan laser di kedua mata . Tapi semua ini bukanlah musibah semata.


Justru lewat sakit-sakit inilah saya mulai merenung—mungkin ini adalah cara Allah membersihkan dosa-dosa saya. Mungkin ini adalah bentuk cinta-Nya, agar saya lebih banyak berhenti, mengingat, dan memperbaiki diri. Setiap rasa nyeri, setiap keterbatasan, menjadi panggilan untuk lebih sadar akan kefanaan tubuh dan kekuatan jiwa yang bisa dibangun dari kepasrahan.


Ini bukan keluhan. Ini adalah catatan kecil dari perjalanan batin seorang hamba yang sedang belajar menerima dan bersyukur, bahkan dalam sakit.

Terkadang kita merasa beban hidup dan sakit begitu berat. Namun saat aku mulai membuka mata, melihat sekitar, aku disadarkan bahwa banyak orang lain yang menanggung derita jauh lebih besar.


Kakakku sendiri pernah terbaring lama karena kanker paru dan tulang . Hari-harinya dihabiskan di rumah sakit, tak hanya menahan sakit tapi juga kehilangan harapan. Tubuhnya perlahan lumpuh sebelum akhirnya dipanggil pulang oleh Sang Pencipta.


Di sekitar rumah, ada tetangga yang tak lagi bisa meninggalkan tempat tidur bahkan kedua . Suami atau istri . Dari teman-teman seangkatan ku di lingkungan , hanya aku yang masih hidup—yang lain sudah berpulang atau menderita sakit berat.


Di rumah sakit, aku melihat yang lebih memilukan. Ada yang tak lagi bisa duduk, hanya bisa berbaring dengan selang di seluruh tubuhnya. Ada yang digerakkan dengan didorong di tempat tidur, bukan kursi roda. Banyak yang tak bisa makan tanpa bantuan. Yang lain hanya bisa menunggu—dengan tabah, dengan harap, atau hanya dengan diam.

 Ada yang akhirnya sembuh, tapi tak pulih. Ada yang pergi setelah berjuang bertahun-tahun. Ada pula yang masih hidup, tapi dengan cacat yang mengubah hidupnya selamanya.


Lalu aku…?


Dengan segala sakit yang kualami, aku masih bisa berjalan, berpikir, bahkan menulis renungan ini. Masih diberi waktu, diberi kesadaran, diberi kesempatan untuk berbenah.


Nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan?

Dalam renungan ku kini sakit sering dianggap beban, tapi bagi orang beriman, justru bisa menjadi karunia tersembunyi. Di balik nyeri dan kelemahan tubuh, Allah mungkin sedang menghapus dosa-dosa kita yang menumpuk, mengangkat derajat kita, dan memberi waktu agar kita sempat kembali—sebelum terlambat.


*“Tiada suatu musibah pun yang menimpa seorang Muslim, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya, meskipun hanya karena tertusuk duri.”*  

(HR. Bukhari dan Muslim)


*“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kegelisahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya karenanya.”*  

(HR. Bukhari no. 5641, Muslim no. 2573)


Sakit yang sedang aku alami menjadi cermin besar: 

bagaimana kalau jiwaku diambil *sebelum* sempat bertobat?

 Sebelum dosa-dosa ini dihapus dengan taubat nasuha atau sakit yang melebur kesalahan?

Sungguh mengerikan jika itu sampai terjadi, beruntung diberi sakit yangemberi waktu. Dan kesempatan menjadi lebih dekat pada Nya

*“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubat nasuha).”*  

(QS. At-Tahrim: 8)

*“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi siapa yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.”*  

(QS. Thaha: 82)


Bila bukan karena sakit, mungkin aku masih tertipu oleh dunia, merasa baik-baik saja padahal tengah menjauh dari-Nya. Tapi lewat sakit ini, aku diberi waktu untuk merenung, memperbaiki diri, menyesali dosa, dan mengikhlaskan hidup sebagai jalan menuju perjumpaan dengan-Nya.


*“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”*  

(QS. Fussilat: 30)


Sambil berjuang, aku pun ingin tetap mencoba menjadi manusia yang memberi manfaat. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya.


*“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”*  

(HR. Ahmad, Thabrani)


Aku tak ingin suaraku hanya berisi keluhan, tapi keikhlasan. Tak ingin fokus pada luka, tapi pada hikmah. Sakit bukanlah akhir, tapi pintu—pintu menuju kebaikan, menuju ampunan, menuju akhir terbaik yang kita semua dambakan: husnul khotimah.

*“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah *laa ilaaha illallah*, maka dia akan masuk surga.”*  

(HR. Abu Dawud, Al-Hakim)


Dalam setiap langkah sakit dan ujian, aku belajar bahwa hidup bukan sekadar soal sehat atau sakit, kuat atau lemah, tapi tentang bagaimana aku memilih merespon karunia yang Allah berikan.


Sakit ini mengajarkanku arti kesabaran yang sejati, menguatkan ikhlas dalam menerima ketetapan-Nya, dan mengingatkanku bahwa setiap nafas adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, berbuat kebaikan, dan semakin mendekat kepada Allah.


*“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”*  

(QS. Al-Insyirah: 6)


Aku yakin, setiap derita yang Allah titipkan bukan untuk menyiksa, tapi untuk mendidik jiwa agar lebih bersih dan mulia.


Aku berharap, dengan kesabaran dan keikhlasan ini, aku dapat menggapai husnul khotimah — akhir yang indah dalam hidup ini, di sisi-Nya yang penuh rahmat.


*“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”*  

(QS. Ali Imran: 133)

 Semoga sakit yang aku derita menjadi saksi bahwa aku telah berjuang dengan sabar, bahwa aku tidak menyerah dalam menghadapi ujian, dan bahwa aku memilih jalan taubat dan amal saleh sebagai bekal di akhirat nanti.


Aku pun berdoa, agar kita semua yang sedang diuji diberikan kekuatan dan hati yang ikhlas, sehingga setiap cobaan menjadi ladang pahala dan penghapus dosa.


Tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini selama kita menyerahkan diri kepada-Nya dengan penuh kepercayaan dan pengharapan.

Komentar

Postingan Populer