Sapi potong dari breeding hingga meja makan

 Menata Ulang Peternakan Sapi Potong

Dari Breeding hingga Meja Makan






Banyak orang mengaku sebagai peternak sapi, padahal hanya menjalankan satu bagian kecil dari rantai usaha—yakni penggemukan sapi bakalan. Padahal, jika kita bicara soal peternakan sapi yang sesungguhnya, siklusnya dimulai jauh sebelum sapi siap potong. Perjalanan panjang dimulai dari pemilihan benih, proses pembiakan, hingga sapi tumbuh besar dan akhirnya dikonsumsi manusia.


Siklus Panjang dan Biaya Tinggi


Peternakan sejati diawali dengan proses breeding, yaitu pemilihan dan pengembangbiakan indukan unggul. Mendapatkan indukan berkualitas bukanlah hal mudah; butuh waktu panjang dan ketelitian. Setelah indukan diperoleh, proses berlanjut dengan masa bunting sekitar 9 bulan. Anak sapi yang lahir kemudian dibesarkan hingga menjadi sapi bakalan.


Tahap berikutnya adalah pemeliharaan sapi bakalan sampai mencapai bobot ideal untuk dipotong—biasanya memerlukan waktu sekitar 2 tahun. Artinya, dari awal breeding hingga sapi siap potong, dibutuhkan waktu kurang lebih 3 tahun.  


Selain waktu, biaya yang dikeluarkan juga besar. Harga indukan mahal, pakan selama bertahun-tahun tidak murah, dan investasi jangka panjang ini tidak langsung menghasilkan keuntungan. Inilah alasan mengapa banyak pelaku usaha enggan terjun ke breeding, dan lebih memilih fokus pada tahap akhir: penggemukan.


Feedlot dan Perdebatan Grass-Fed vs Grain-Fed

Karena breeding lokal sulit dan mahal, Indonesia banyak mengimpor sapi bakalan untuk kemudian digemukkan di dalam negeri. Pola ini membuat keuntungan awal justru dinikmati peternak luar negeri, sementara Indonesia hanya mendapat margin dari penggemukan. Jelas, ini bukan model ideal untuk ketahanan pangan jangka panjang.


Ada dua pendekatan dalam penggemukan:  

- Grass-fed: sapi dilepas di padang rumput dan mengonsumsi pakan alami.  

- Grain-fed/feedlot: sapi dikandangkan dan diberi pakan konsentrat berbasis biji-bijian.  


Namun, dalam praktiknya, banyak pelaku usaha mengaku menjalankan sistem grain-fed, padahal pakan yang diberikan belum sesuai standar internasional. Hal ini menimbulkan mispersepsi di pasar dan berpotensi menyesatkan konsumen.

Tantangan Besar di Indonesia

Peternakan sapi lokal menghadapi dua tantangan utama:  

1. Keterbatasan lahan  padang rumput membuat sistem grass-fed sulit diterapkan secara luas.  

2. Harga biji-bijian tinggi, karena sebagian besar harus diimpor atau bersaing dengan kebutuhan industri lain.  


Selain itu, daging grain-fed biasanya lebih mahal dan berlemak, sedangkan mayoritas konsumen Indonesia justru lebih menyukai daging dengan kadar lemak rendah dan harga lebih murah. 


Semua Kondisi dijelaskan diatas, membuat sapi lokal semakin sulit bersaing dengan daging impor.

Negara Perlu Hadir

Peternakan sapi tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar. Negara perlu hadir dengan kebijakan yang mendorong investasi jangka panjang di sektor breeding, menjamin harga pakan yang stabil, serta memberikan insentif bagi peternakan terintegrasi dari hulu ke hilir.  


Tanpa dukungan kebijakan yang kuat, Indonesia akan terus bergantung pada impor, dan kemandirian pangan hanya akan menjadi wacana.

Kemandirian Peternakan Harus Dimulai Sekarang

Jika Indonesia ingin mandiri dalam pasokan daging sapi, maka harus ada keberanian untuk mengembangkan peternakan sejati. Bukan sekadar penggemukan, tetapi membangun ekosistem dari benih hingga konsumsi.  Termasuk ladang rumput luas utk jenis grass fed beef. Dimana sapi dipelihara dipandang rumput luas

Andai ingin grain fed beef. Perlu ada pakan bijian seperti jagung kedele yang banyak. Dan harga bersaing untuk konsumen kelas atas yg ingin daging empuk yang ada lemak diantara daging nya

Butuh waktu, butuh biaya, namun itulah investasi nyata untuk masa depan ketahanan pangan bangsa.

Komentar

Postingan Populer