Rendang juara dunia tapi kenapa belum mendunia

 *Rendang juara dunia tapi kenapa belum mendunia *  




Di tengah perjalanan jauh ke Eropa, lelah dan rindu rumah, aku duduk di sudut sebuah coffee shop di sebuah hotel  di kota Hameln di Jerman. Sejuk udaranya, tapi pikiranku hangat saat melihat papan menu yang menyelipkan:


Nasi goreng  - Indonesian Fried Rice”*  

Gado-Gado –Indonesia  Mixed Vegetables with Peanut Sauce”*


Ada rasa bangga… kecil, tapi nyata. Tapi saat membuka buku menu lebih dalam, aku mendapati sesuatu:  

*Burger Amerika – *  

*Sushi Jepang – pilihan bervariasi.*  

*Kebab Turki – ada tiga varian.*  

*Pho Vietnam – lengkap dengan sejarahnya.*


Sedang rendang? Rawon? Lontong sayur? Belum  ada.



Kemudian aku  melanglang buana Aku berjalan di jalan-jalan Paris, di mana *tukang sate keliling* menyusuri trotoar seperti penjual crepes.  

Di Dubai, *es cendol* dijajakan dalam toples elegan oleh barista bersorban.  

Di New York, gerai cepat saji “*Rendang Republik*” penuh antrean.  

Di Seoul, anak muda nongkrong sambil makan *Pempek Palembang* dengan saus khas yang ditulis: *“Sweet-sour soy jellyfish sauce.”*

Lalu aku masuk ke sebuah supermarket raksasa di Berlin.  

Di bagian makanan siap saji, kulihat label:  

*“Rawon Premium – Indonesian Black Beef Soup”*  

*“Lontong Cap Go Meh – Home Edition”*  

*“Tempe Chips – World’s Healthiest Snack”*


Dan di langit-langit toko itu tergantung tulisan besar:  

*“Taste the Soul of Indonesia.”*


Tanganku gemetar.  

Hatiku hangat.  

Tangis jatuh pelan-pelan di pipi.


Tapi lalu...  

Alarm ponsel berbunyi. Aku terbangun Itu hanya mimpi. 


Kembali ke kenyataan rendang lebih sering diklaim negara lain.  

Tempe disebut makanan aneh.  

Dan pelabuhan ekspor kita belum cukup mendukung agar makanan ini melangkah jauh.


Dilain pihak betapa mudah di negaraku jumpai burger Hot dog tom yum. Kebab 

 Spaghetti teriyaki dan lai. Produk luar


Betapa inginnya kuliner kita go global mengapa tidak +

dsb mimpi itu terus tinggal di hatiku.  

Menjadi tanya:  

*“Kenapa belum kita?”*  

*“Apa yang menghalangi?”*


Realitas yang Mengganjal

Kenyataan berkata lain:  

- Branding kuliner kita masih lemah: belum ada narasi besar yang menjual “jiwa Indonesia” seperti Jepang dengan sushi atau Italia dengan pasta.  

- Dukungan kebijakan, riset, dan promosi internasional masih sporadis, belum terintegrasi.  


Mengapa Belum Kita?

Pertanyaan itu terus bergema:  

- Apakah karena kita belum serius membangun standar internasional?  

- Apakah karena kuliner kita terlalu beragam sehingga sulit dipilih ikon utamanya?  

- Ataukah karena kita masih menganggap makanan tradisional sekadar “warisan” bukan “masa depan”?  


Padahal kuliner adalah diplomasi yang paling lembut. Ia bisa membuka pintu budaya, ekonomi, bahkan politik.  



Mimpi ku itu harusnya  bukan sekadar lamunan. Ia adalah panggilan.  

Bahwa kuliner Indonesia layak berdiri sejajar dengan sushi, kebab, pho, dan pasta.  

Bahwa rendang, rawon, lontong sayur, pempek, dan tempe bisa menjadi wajah bangsa di meja dunia.  


Mimpi hanyalah langkah pertama—  

tapi jika kita cukup SERIUS untuk mewujudkannya,  

maka suatu hari papan menu di Berlin, Paris, New York, dan Seoul akan menulis:  


“Taste the Soul of Indonesia.”  


-

Komentar

Postingan Populer