AI. Sahabat Literasi atau musuh otensitas
AI sahabat literasi atau musuh otensitas
Di zaman ini, mesin bisa menjawab sebelum kita selesai bertanya.
AI hadir bukan sebagai pengganti akal, tapi alat yang memperluas jangkauannya.
Ia bukan guru, tapi bisa jadi peta. Bukan pemikir, tapi bisa jadi pemantik.
Namun, ketika mahasiswa menyalin mentah jawaban dari chatbot,
dan menyebutnya “karya ilmiah”—ada yang keliru di situ.
Bukan karena AI salah,
tetapi karena penggunaannya tanpa kesadaran.
AI tidak selalu benar. Aku tahu.
Aku pernah menemukan referensi yang palsu, tautan yang tak ada,
argumen yang goyah dibalik bahasa yang meyakinkan.
Justru di sanalah tantangannya:
membedakan antara bantu dan bohong.
Menulis dengan bantuan AI bukan dosa.
Yang keliru adalah berpikir tak perlu berpikir.
Karena hakikat belajar bukan tentang menyusun kata,
melainkan menyusun makna dalam pikiran dan hati.
Maka dosen pun harus cerdas.
Bukan sekadar menilai tulisan,
tetapi memahami:
apakah tulisan itu lahir dari nalar, atau dari sekadar salin-tempel digital.
Biarlah AI menjadi sahabat berpikir,
bukan pengganti berpikir.
Karena karya besar lahir dari jiwa yang jujur,
bukan sekadar dari algoritma yang lancar menyusun kalimat.



Komentar