Tubuh melemah iman menguat









Kini aku belajar

bahwa tubuh bukan lagi sahabat yang selalu patuh.

Ia berjalan lebih lambat dari keinginanku,

sembuh lebih lama dari harapanku.


Dua puluh tahun lalu

di sebuah kamar rumah sakit

aku menyaksikan seorang anak muda

datang dengan luka yang lebih berat dariku.

Ia menerima transfusi,

namun beberapa hari kemudian

suaranya sudah terdengar riang

bernyanyi di kamar mandi.


Sementara aku—

yang datang lebih dulu,

yang sakitnya bahkan tak seberat itu—

masih belum mampu mandi sendiri.


Waktu berlalu.

Kini usia menua.

Setiap sakit terasa lebih panjang,

setiap sembuh terasa lebih jauh.

Ada saat hati hampir berkata:

cukup.

Namun putus asa

selalu buntu jalannya.

Ia tak membawa kita ke mana-mana.

Maka aku bangkit lagi,

meski perlahan.



Kulihat dunia di sekelilingku

begitu banyak yang lebih muda,

namun memikul penderitaan

yang bahkan lebih berat.


Di sana aku belajar

bahwa yang paling menyokong hidup

bukanlah kekuatan tubuh,

melainkan kesabaran

dan iman yang tidak goyah.


Ya, sakit yang panjang melelahkan.

Bulan-bulan pengobatan menguras tenaga,

juga menguras biaya.


Namun justru di jalan sunyi itulah

aku menemukan sesuatu yang lain:

kesadaran

betapa rapuhnya manusia.

Dan betapa Maha Besarnya Allah.

Maka jika suatu hari

tubuh ini benar-benar sampai

di ujung kekuatannya—

aku ingin hati ini tetap berdiri,

dekat kepada-Nya.


Karena mungkin

di sanalah jawaban paling menenangkan:

bukan sekadar sembuh,

melainkan pulang

dengan akhir

yang terbaik.

Komentar

Postingan Populer