AI itu alat, baik buruk tergantung pengguna
AI itu alat, baik buruk tergantung pengguna
Mereka bertengkar —
tentang chatbot, AI, tulisan yang katanya tak otentik,
seolah dunia hanya boleh ditulis oleh tangan yang berkeringat,
bukan oleh pikiran yang dibantu cahaya buatan.
Tapi apa sih…
yang tak bisa salah?
Bukankah manusia pun kerap keliru,
dan justru itu yang membuatnya utuh?
Aku tak takut dibantu.
Aku tahu rasanya tetap milikku,
karena yang kupilih, yang kupilah,
lahir dari hati dan pikiranku sendiri.
ChatGPT, bagiku, bukan pengganti.
Ia sahabat kerja sunyi,
ia pisau di dapur yang kupakai memotong,
bukan melukai.
Bukan salah pisau bila ia dipakai membunuh,
sama seperti bukan salah AI bila disalahgunakan.
Yang penting:
siapa yang memegangnya,
dan untuk apa.
Terima kasih untuk alat ini.
Terima kasih pada mereka yang menciptakannya.
Karena kini, karyaku tak sendiri —
tapi tetap milikku… sepenuhnya.



Komentar