Penyakit Boongan vs Penyakit Sungguhan (serie 1)




Penyakit Boongan vs Penyakit Sungguhan: Tubuhku yang Mana? ( serie 1)

Ketika Tubuh Sakit, Tapi Bukan Tubuh yang Salah

Aku pernah berada di fase ketika setiap sensasi di tubuh terasa mencurigakan.

Sedikit pusing, jantung berdebar, perut melilit—pikiran langsung lari jauh. Pemeriksaan medis datang silih berganti. Sebagian hasilnya normal. Tapi rasa sakitnya? Nyata. Sangat nyata.

Di titik itu, aku mulai bertanya:

“Kalau semua hasil pemeriksaan terlihat baik-baik saja, kenapa aku tetap merasa sakit?”

Dari sanalah aku mulai mengenal perbedaan antara sakit yang benar-benar fisik dan sakit yang sering disebut orang sebagai sakit palsu—meski aku lebih suka menyebutnya sakit psikosomatis.

Sakit “Palsu” Itu Nyata, Bukan Mengada-ada

Sakit psikosomatis bukan drama. Bukan juga kurang iman.

Rasanya benar-benar terasa di tubuh.

Yang membedakan, sumbernya bukan kerusakan organ, melainkan sistem saraf yang terlalu siaga.

Aku mulai menyadari ciri-cirinya:

Hasil pemeriksaan medis sering tidak sebanding dengan rasa sakit

Keluhan berpindah-pindah

Gejala muncul atau memburuk saat cemas dan terlalu banyak berpikir

Anehnya, saat sedang tenang atau terdistraksi, keluhan bisa mereda

Seperti alarm rumah yang terus berbunyi, padahal tidak ada maling.

Lalu Bagaimana dengan Sakit Fisik yang Sesungguhnya?

Sakit fisik punya pola yang lebih jelas:

Ada temuan medis yang nyata

Lokasi dan keluhannya konsisten

Tidak terlalu dipengaruhi suasana hati

Ada respon yang relatif jelas terhadap pengobatan

Ini penting aku pahami, supaya tidak menyepelekan sakit fisik—dan juga tidak memaksa semua keluhan harus dicari “penyakitnya”.

Saat Aku Sadar: Sistem Sarafku Lelah

Titik balikku datang saat menyadari satu hal sederhana tapi dalam:

tubuhku bukan rusak, tapi kelelahan menjaga diri.

Cemas yang berlebihan , pikiran yang berputar tanpa henti, ketakutan akan sakit, over thinking —semuanya membuat sistem saraf terus menekan tombol “bahaya”.

Akibatnya:

Jantung terasa aneh

Kepala terasa ringan atau berat

Perut bereaksi berlebihan

Otot menegang tanpa sadar

Tubuh sedang berusaha melindungi, tapi caranya berlebihan.

Mengakui: “Ini Psikosomatis” Bukan Kekalahan

Mengakui ini bukan berarti menyerah.

Justru sejak aku bisa berkata, “Oke, ini psikosomatis,” bebanku berkurang.

Aku berhenti:

Mengejar diagnosis baru

Panik tiap sensasi muncul

Marah pada tubuh sendiri

Aku mulai berdamai dan bekerja sama.

Sistem saraf manusia terbagi dua: sadar dan tak sadar. Saat stres, sistem saraf otonom (terutama saraf simpatik) bisa terlalu aktif. Ini bisa memicu sensasi nyeri, sesak, pegal, dan gejala lain tanpa ada kerusakan nyata. Inilah yang sering disebut sebagai *psikosomatis* — ketika pikiran memengaruhi tubuh.


- *Sadari dan terima* bahwa rasa sakit bisa berasal dari pikiran. Ini bukan berarti “mengada-ada”.  

- *Bernapas dalam-dalam*, lakukan teknik grounding (menyentuh benda fisik, menjejakkan kaki, dsb).  

- *Catat pemicu*: kapan sakit muncul, sedang memikirkan apa, sedang stres atau tidak.  

- *Alihkan perhatian secara sehat*: aktivitas ringan, jalan santai, ngobrol, menulis jurnal.  

- *Jika perlu, konsultasikan ke psikolog atau dokter*. Jangan menanggung sendiri.


Sakit palsu bukan bohong, tapi sinyal tubuh yang salah arah. Dengan mengenali perbedaannya, kita bisa lebih bijak merawat tubuh dan pikiran — dua dunia yang ternyata sangat terhubung.



Ritual Kecil yang Membantuku Bertahan

Aku tidak punya jurus ajaib. Tapi aku punya kebiasaan sederhana:

Duduk sebentar sebelum berdiri, benar-benar sadar menapak

Menarik napas pelan, menghembuskannya lebih panjang

Mengatakan dalam hati: “Ini tidak berbahaya. Aku aman.”

Tidak buru-buru menghilangkan sensasi—kuberi izin untuk lewat

Tetap bergerak ringan agar pikiran tidak mengerubungi tubuh

Bukan melawan rasa sakit, tapi menemani tubuh sampai ia tenang sendiri.


Sekarang aku tahu:

Sakit fisik dan sakit psikosomatis sama-sama nyata. Yang berbeda hanyalah asal sinyalnya.

Dengan memahami perbedaan itu, aku mulai  tidak lagi sempoyongan. Aku belajar duduk sejenak, bernapas, lalu berdiri dengan lebih sadar.


Jika tulisan ini sampai ke kamu yang sedang lelah dengan tubuh sendiri, semoga kamu tahu satu hal:

kamu tidak lemah, dan kamu tidak sendirian


Akan kita sambung serie berikut dengan cara atau ritual yang bisa membantu menenangkan diri. Yang selintas sudah diuraikan diatas 

Komentar

Postingan Populer