Penyakit Boongan (lanjutan)




Penyakit Boongan (Seri 2): 

Saat Saraf Lupa Cara Istirahat


Penyakit boongan secara istilah ilmiah disebut penyakit. Psikosomatis 


Saya perlu menegaskan dari awal:

saya bukan ahli saraf, bukan dokter, bukan terapis.

Saya hanya orang yang baru mulai mengakui bahwa penyakit boongan itu ada,

lalu mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh — dengan bahasa orang awam, dari apa yang saya alami sendiri dan sy pahami setelah mempelajari 

Tubuh Punya Dua Mode Dasar

Dari yang saya pelajari dan rasakan, tubuh kita bekerja dalam dua mode besar:

Mode Istirahat (Tenang)

Mode Siaga (Waspada)

Keduanya penting.

Masalahnya bukan di mode siaga,

tapi saat kita terjebak terlalu lama di sana.

Mode Istirahat: Saat Tubuh Memperbaiki Diri

Di mode ini, tubuh:

napas lebih dalam dan teratur

detak jantung lebih stabil

pencernaan bekerja lebih baik

otot lebih rileks

tidur lebih mudah datang

Ini kondisi saat:

lambung bisa mencerna dengan tenang

saraf tidak tegang

tubuh merasa aman

Masalahnya, mode ini tidak bisa dipaksa dengan pikiran.

Ia hanya muncul kalau tubuh merasa aman.

Mode Siaga: Berguna, Tapi Tidak untuk Selamanya

Mode siaga itu penting.

Ia menyelamatkan kita dari bahaya.

Tapi di mode ini:

napas jadi pendek

otot tegang

jantung lebih cepat

pencernaan melambat

pikiran waspada berlebihan

Mode ini seharusnya sementara.

Masalah muncul saat hidup membuat kita:

terlalu lama cemas

terlalu sering menahan emosi

terlalu terbiasa “kuat”

jarang benar-benar berhenti

Tubuh lalu mengira:

bahaya tidak pernah selesai.

Apa yang Terjadi Jika Terlalu Lama di Mode Waspada

Ini yang saya alami, dan mungkin juga dialami banyak orang:

Lambung bermasalah

Karena tubuh sibuk siaga, bukan mencerna.

Susah tidur atau sering terbangun

Karena saraf tidak pernah benar-benar turun ke mode istirahat.

Pusing tanpa sebab jelas

Karena napas dangkal dan otot leher tegang.

Dada tidak nyaman, jantung terasa aneh

Karena sistem siaga terus menyala.

Pikiran sulit diam

Karena tubuh belum merasa aman.

Secara medis sering dibilang “normal”.

Tapi secara saraf, tubuh kelelahan.

Penyakit Boongan Itu Alarm, Bukan Tipuan

Di titik ini saya mulai paham:

penyakit boongan bukan drama, bukan cari perhatian.

*Ketegangan yang Datang dari Pikiran Sendiri*


Sering kali, pemicu utama dari gejala sakit boongan  bukan penyakit fisik yang nyata, melainkan *overthinking*—kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan, berulang, dan sulit dihentikan. 

Pikiran yang terus-menerus dipenuhi kekhawatiran membuat sistem saraf simpatis aktif berlebihan. Akibatnya, tubuh terasa tegang, otot mengeras, kepala mudah pusing, dada sesak, tidur terganggu, hingga muncul rasa marah tanpa sebab yang jelas.


Saya pribadi mengalaminya. Ada masa ketika pikiran saya sulit diam. Kekhawatiran kecil bisa berubah menjadi beban besar. Lalu tubuh pun ikut bicara: terasa nyeri, lelah, tapi hasil pemeriksaan medis sering kali “normal”.


Ada satu hal yang baru saya sadari belakangan ini:

saraf tidak membedakan ancaman nyata dan ancaman pikiran.

Saat kita overthinking:

membayangkan kemungkinan terburuk

mengulang-ulang gejala di kepala

terus memantau tubuh

bagi saraf, itu sama saja seperti bahaya sungguhan.

Akibatnya, meski tubuh sedang duduk diam,

sistem siaga tetap menyala.

Overthinking bukan sekadar kebiasaan berpikir.

Ia membuat:

napas jadi pendek

otot halus ikut tegang

lambung ikut “menutup”

tidur jadi sulit

Bukan karena kita lemah,

tapi karena pikiran terus mengirim sinyal:

“Hati-hati… ada yang tidak beres.”

Yang sering tidak kita sadari:

saat kita sibuk menganalisis tubuh,

kita justru menjauh dari tubuh itu sendiri.

Saraf tidak butuh penjelasan panjang.

Ia butuh rasa aman.

Maka ketika saya berhenti sejenak dari:

mencari makna setiap sensasi

menilai apakah ini berbahaya

memeriksa ulang berkali-kali

dan mulai kembali ke hal sederhana seperti napas dan grounding,

saraf perlahan mendapat pesan baru:

“Tidak apa-apa. Sekarang aman.”

Overthinking tidak perlu dilawan dengan keras.

Justru semakin dilawan, ia makin kuat.

Yang membantu bukan berpikir lebih keras,

tapi turun dari kepala ke tubuh.

Dan di situlah saya mulai mengerti:

penyakit boongan sering bertahan bukan karena tubuh rusak,

melainkan karena pikiran tidak pernah memberi izin tubuh untuk istirahat.

Ia alarm saraf yang bilang:

“Aku butuh istirahat, tapi belum tahu caranya.”

Kenapa Hal Sederhana Bisa Membantu

Saat saya:

tarik napas dengan sadar

menapak lantai

mengepalkan dan melepas tangan

duduk pelan sebelum berdiri

Saya seperti memberi pesan ke tubuh: “Sekarang aman.”

Dan anehnya:

lambung lebih tenang

pusing tidak langsung melonjak

tidur sedikit lebih mudah

Bukan sembuh total.

Tapi saraf mulai belajar turun dari siaga.

Saya menulis ini bukan untuk menyederhanakan masalah,

tapi untuk membumikan.

Kadang tubuh tidak rusak.

Ia hanya kelelahan menjaga kita terlalu lama.

Jika kita mau mengerti mekanismenya,

penyakit boongan tidak lagi menakutkan —

ia jadi penunjuk arah.

Bersambung ke  Seri terakhir (Penutup) 

bagaimana berdamai dengan tubuh & hidup lebih pelan tanpa rasa bersalah.


Komentar

Postingan Populer