Pertanian kuat lahir dari system bukan subsidi
Pertanian kuat lahir dari. System bukan subsidi
Bantuan Bukan Sistem
Mengapa bantuan Pupuk dan Alsintan Tak Pernah Menyelesaikan Masalah Pertanian
Setiap kali harga hasil pertanian anjlok, negara hampir selalu merespons dengan cara yang sama: bantuan pupuk, bantuan alsintan, dan subsidi. Pola ini berulang dari tahun ke tahun, dari satu komoditas ke komoditas lain. Sayangnya, meski bantuan terus mengalir, masalah dasar pertanian tidak pernah benar-benar selesai.
Masalahnya sederhana namun mendasar: bantuan bukan sistem
Kebijakan Reaktif, Bukan Solusi Struktural
Bantuan pupuk dan alsintan bersifat reaktif. Ia muncul setelah masalah terjadi—saat harga jatuh, saat petani merugi, saat produksi terganggu. Bantuan semacam ini mungkin meringankan beban sesaat, tetapi tidak menyentuh akar persoalan.
Produksi boleh meningkat karena pupuk murah dan alat tersedia, tetapi setelah panen, petani kembali berhadapan dengan masalah klasik:
siapa yang menyerap hasil panen?
kapan waktu jual yang tepat?
bagaimana menjaga harga agar tidak jatuh serempak?
Tanpa jawaban sistemik, panen raya justru berubah menjadi bencana harga
Mengapa Pertanian Kita Tak Kunjung Kuat
Selama ini, setiap kali pertanian bermasalah, jari telunjuk hampir selalu mengarah ke petani: dianggap kurang inovatif, kurang produktif, atau kurang adaptif. Padahal, di banyak negara, petani dengan kemampuan biasa-biasa saja justru mampu hidup layak dan stabil. Bedanya bukan pada manusianya, melainkan pada sistem yang menaungi mereka.
Masalah utama pertanian kita bukan kekurangan kerja keras, melainkan ketiadaan sistem yang utuh dari hulu hingga hilir. Petani dibiarkan berjalan sendiri, menebak-nebak pasar, menanggung risiko harga, cuaca, dan distribusi—semuanya sekaligus.
Apa yang Dimaksud Sistem Pertanian yang Baik
Sistem pertanian yang baik bukan sekadar subsidi pupuk atau bantuan benih. Sistem adalah rangkaian kebijakan dan kelembagaan yang saling terhubung, mulai dari:
Penentuan komoditas prioritas
Penyediaan input (benih, pupuk, teknologi)
Proses produksi di tingkat petani
Pascapanen (penyimpanan, grading, pengolahan)
Akses pasar dan kepastian harga
Data produksi sebagai dasar kebijakan
Jika salah satu mata rantai ini terputus, maka seluruh sistem akan pincang—dan petani yang pertama kali menanggung akibatnya.
Belajar dari Negara yang Berhasil
Sistem pertanian bukan wacana teoretis. Ia telah terbukti bekerja di berbagai negara.
Vietnam: Kepastian Arah dan Pasar
Vietnam berhasil menjadi salah satu eksportir kopi dan beras terbesar dunia bukan karena tanahnya lebih subur, melainkan karena negaranya memberi arah yang jelas. Komoditas unggulan ditentukan, standar kualitas disepakati, dan akses pasar disiapkan. Petani tidak disuruh menebak harga atau mencari pembeli sendiri. Negara berperan sebagai penghubung antara produksi dan pasar global.
Thailand: Rantai Nilai yang Terhubung
Thailand membangun pertaniannya melalui integrasi riset, produksi, industri, dan ekspor. Petani terhubung dengan koperasi dan industri pengolahan. Hasil panen tidak langsung dijual mentah, melainkan masuk ke rantai nilai yang memberi nilai tambah. Pascapanen menjadi bagian penting, bukan sekadar urusan petani.
Jepang: Sistem Mengalahkan Skala
Jepang membuktikan bahwa pertanian maju tidak harus bertumpu pada lahan luas. Petani kecil tetap bertahan karena negara mengatur produksi berbasis data, menjaga stabilitas harga, dan memastikan distribusi berjalan efisien. Negara menentukan apa ditanam, di mana, dan berapa banyak—bukan untuk membatasi, tetapi untuk menjaga keseimbangan.
Benang Merah Keberhasilan
Dari berbagai contoh tersebut, satu pola terlihat jelas:
Negara bertindak sebagai arsitek sistem, bukan sekadar penonton
Petani tidak dibiarkan sendirian menghadapi risiko
Produksi berbasis data, bukan spekulasi
Pasar disiapkan sebelum tanam dilakukan
Keberhasilan pertanian lahir dari kepastian, bukan keberuntungan.
Cermin untuk Indonesia
Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan potensi. Namun, selama ini pertanian lebih sering dikelola secara parsial. Produksi didorong tanpa kepastian pasar. Subsidi diberikan tanpa arah komoditas yang konsisten. Akibatnya, pola klasik terus berulang: panen melimpah justru diikuti harga jatuh.
Ini bukan kegagalan petani, melainkan kegagalan sistem. Negara belum sepenuhnya hadir sebagai perancang dan penjaga keterhubungan antar mata rantai.
Menuju Pertanian yang Berdaulat
Jika Indonesia ingin pertaniannya kuat dan berdaulat, perubahan harus dimulai dari cara pandang. Negara tidak perlu turun ke sawah, tetapi harus berdiri di atasnya—sebagai arsitek sistem yang memberi arah, kepastian, dan perlindungan.
Selama negara belum mengambil peran itu, petani akan terus berjudi dengan nasibnya sendiri.yg Padahal, contoh keberhasilan sudah ada di depan mata. Yang dibutuhkan bukan meniru hasilnya, melainkan membangun sistemnya.
(Catatan: Artikel ini ditulis dengan bantuan AI sebagai asisten penulisan dan pengembangan ide.)



Komentar