Negara sebagai Arsitek system pembangunan pertanian
Negara sebagai Arsitek system pembangunan pertanian
Setiap kali bicara memajukan pertanian , satu resep lama selalu muncul ke permukaan: menggiatkan kembali penyuluh pertanian dan pastikan pupuk bersubsidi tersedia , seperti yang dianggap buat sukses di era Orde Baru.
Pertanyaannya sederhana tapi krusial: apakah kondisi hari ini masih sama dengan dulu?
Jawabannya: tidak sesederhana itu.
1. Konteks Zaman Sudah Berubah
Di era Soeharto, struktur pertanian Indonesia relatif:
Petani lebih homogen
Rantai pasok pendek
Negara sangat dominan sebagai pengarah
Pasar belum sekompleks sekarang
Hari ini?
Petani sangat banyak, kecil-kecil, dan tersebar
Rantai pasok panjang dan berlapis
Pasar input dan output sudah dikuasai mekanisme korporasi
Informasi dan teknologi bergerak cepat
Menerapkan ulang pola lama di konteks baru berisiko seperti memaksakan peta lama untuk wilayah yang sudah berubah bentuk.
2. Masalah Efektivitas Penyuluhan
Penyuluh pertanian idealnya:
Membimbing
Mengedukasi
Menghubungkan petani dengan teknologi dan pasar
Namun realitasnya:
Rasio penyuluh vs petani sangat timpang
Petani terlalu kecil dan terpencar
Penyuluhan sering bersifat administratif, bukan transformatif
Belum lagi pengetahuan penyuluh belum tentu berkembang secepat pertumbuhan masa kini
Akibatnya, penyuluhan jadi terlalu ikut campur di hulu, tapi lemah di hilir—tidak menjamin hasil panen terserap pasar dengan harga layak.
3. Subsidi Pupuk: Membantu atau Menjebak?
Subsidi pupuk memang meringankan biaya, tapi punya efek samping:
Ketergantungan struktural
Distorsi harga
Masalah distribusi dan kebocoran
Konflik data dan kuota
Petani dibantu bertahan, tapi tidak benar-benar naik kelas.
4. Alternatif: Petani Kecil Dikonsolidasikan, Bukan Diatur Satu per Satu
Masalah utama pertanian Indonesia bukan semata teknologi, tapi skala dan posisi tawar.
Karena itu, pendekatan yang lebih realistis adalah:
Mengonsolidasikan petani kecil ke dalam koperasi yang bertindak seperti korporasi.
Bukan koperasi formalitas, tapi koperasi operasional
Jalan keluar yang lebih sesuai dengan zaman membuat
Koperasi Tani sebagai “Mini Korporasi”
Bayangkan koperasi yang:
Menghimpun ratusan atau ribuan petani kecil
Mengelola produksi secara kolektif
Bertindak sebagai satu entitas ekonomi
Dengan skala ini:
Supplier pupuk dan benih akan datang sendiri
Mereka akan menjelaskan cara penggunaan terbaik produknya
Persaingan antar supplier terjadi di level koperasi, bukan petani
Peran negara berpindah:
Dari mengajar petani
Menjadi memastikan tata kelola koperasi sehat
Koperasi dijalankan dengan konsep Close Loop Supply Chain jadi Kunci Keberlanjutan
Koperasi tani idealnya terhubung dalam rantai pasok tertutup (close loop):
Input: pupuk, benih, alat
Produksi: standar kualitas bersama
Hilir: kontrak dengan pabrik pengolahan, ritel, atau hotel
Dengan kontrak yang jelas:
Bank lebih berani memberi pembiayaan
Supplier bersedia memberi kredit berbasis kontrak
Risiko usaha menurun drastis
Petani tidak lagi “menanam lalu berharap laku”, tapi menanam karena sudah ada pembeli.
Peran Negara yang Lebih Tepat
Dalam model ini, negara tidak perlu:
Terlalu banyak penyuluh
Subsidi pupuk besar-besaran
Yang dibutuhkan justru:
Regulasi koperasi yang kuat dan profesional
Pendampingan manajemen (bukan teknis tanam)
Infrastruktur data dan kontrak
Akses pembiayaan berbasis rantai pasok
Bukan Menolak Masa Lalu, Tapi Menyesuaikan Masa Depan
Keberhasilan pertanian era Orde Baru tidak salah, tapi tidak otomatis bisa diulang dengan cara yang sama.
Masalah hari ini bukan kurangnya penyuluh atau pupuk murah, melainkan:
Petani yang terfragmentasi
Posisi tawar yang lemah
Terputusnya hulu dan hilir
Jika ingin pertanian maju dan berdaulat, mungkin saatnya berhenti bertanya:
“Bagaimana negara mengatur petani?”
Dan mulai bertanya:
“Bagaimana petani bisa bersatu dan bernegosiasi setara dengan pasar?”
Apa yang diuraikan diatas sebenarnya adalah mengajak Pergeseran pendekatan : Negara Bukan Lagi Operator, tapi Arsitek Sistem
Selama ini, negara sering diposisikan sebagai operator langsung dalam pertanian:
Mengatur tanam
Menentukan input
Menyalurkan pupuk
Menugaskan penyuluh
Bahkan ikut “mengajari” petani satu per satu
Pendekatan ini terlihat aktif, tapi diam-diam menyimpan masalah besar:
negara masuk terlalu jauh ke detail operasional, tapi absen dalam desain sistem.
Operator vs Arsitek: Bedanya Fundamental
Operator:
Fokus pada kegiatan harian
Mengurus detail teknis
Bekerja reaktif
Hasilnya tergantung kapasitas aparat
Arsitek sistem:
Mendesain aturan main
Menghubungkan aktor-aktor
Memastikan insentif selaras
Sistem tetap berjalan meski aktor berganti
Di dunia yang kompleks, operator selalu kewalahan.
Arsitek justru membuat sistem yang bekerja sendiri.
Masalah Utama Pertanian Bukan Produksi, tapi Alur Nilai
Indonesia sebenarnya tidak miskin petani dan lahan.
Masalah besarnya ada di:
Nilai tambah yang bocor
Rantai pasok yang terputus
Petani berdiri sendirian di tengah pasar besar
Petani:
Beli input secara eceran
Jual output tanpa kepastian
Menanggung seluruh risiko
Negara hadir di hulu (subsidi), tapi tidak menjamin alur nilai dari tanam sampai konsumsi.
Tugas Negara Seharusnya: Membuat Value & Supply Chain Mengalir
Peran negara sebagai arsitek adalah mendesain sistem di mana arus berikut lancar:
Barang
Uang
Informasi
Risiko
Kepercayaan
Bukan mengatur siapa tanam apa hari ini, tapi:
Siapa terhubung dengan siapa
Siapa menanggung risiko apa
Insentif apa yang mendorong perilaku sehat
Koperasi sebagai node Sistem, Bukan Objek Binaan
Dalam desain sistem:
Petani individu terlalu kecil
Penyuluh terlalu terbatas
Subsidi terlalu mahal
Maka negara perlu menciptakan node ekonomi menengah: koperasi tani modern.
Bukan sebagai “penerima bantuan”, tapi sebagai:
Agregator produksi
Pemegang kontrak
Entitas yang bisa dipercaya bank dan industri
Negara tidak perlu mengajari petani memupuk,
cukup memastikan koperasi dikelola profesional dan akuntabel.
Ketika Sistem Benar, Pasar Bekerja Sendiri
Jika koperasi:
Memiliki kontrak dengan pabrik/ritel
Punya volume dan standar
Tercatat secara transparan
Maka:
Bank masuk karena risiko terukur
Supplier masuk karena volume jelas
Teknologi masuk karena ada pasar
Di titik ini, penyuluhan berubah fungsi:
Dari “mengajar petani”
Menjadi “mendukung standar sistem”
Bahkan sebagian fungsi penyuluh secara alami digantikan oleh mekanisme pasar yang sehat.
Subsidi Berubah Bentuk: Dari Barang ke Sistem
Peran negara tidak harus hilang, tapi berpindah level:
Bukan subsidi pupuk
Tapi subsidi sistem
Contohnya:
Biaya pembentukan koperasi
Sistem pencatatan digital
Penjaminan kontrak
Infrastruktur logistik bersama
Hasilnya:
Lebih tahan lama
Tidak bocor
Tidak menciptakan ketergantungan
Intinya: Negara Mengatur Arsitektur, Bukan Menggendong Semua
Negara yang terlalu menjadi operator:
Cepat capek
Mahal
Tidak scalable
Negara sebagai arsitek sistem:
Fokus pada desain
Mengatur insentif
Membiarkan aktor bergerak
Bukan berarti negara mundur,
tapi naik kelas.
Pertanyaan utamanya bukan lagi bagaimana negara membantu petani,
melainkan bagaimana negara merancang sistem agar petani tidak perlu terus dibantu.




Komentar