Lepaskan,, tenanglah
*“Lepaskan, Tenanglah”*
Aku terlalu ingin segalanya tepat,
seperti garis lurus tanpa retak,
hingga ketika dunia bergeser sedikit,
amarahku meledak — padahal tak ada niat.
Aku pikir panjang, terlalu panjang,
hingga benakku jadi perang,
kata orang kubaca terlalu dalam,
hingga hatiku lekas karam.
Tubuhku menanggung siaga tanpa jeda,
saraf-saraf menegang, tak kenal istirahatnya.
Pusing datang tanpa aba-aba,
karena aku lupa: hidup perlu lega.
Lalu seseorang mengingatkan pelan,
“Tenang… itu hanya pikiran yang kebablasan.”
Aku diam. Mengangguk dalam hati,
memang, tak semua harus disesali.
Kini kuhirup napas dalam,
kutahan, lalu kuhembus perlahan.
Seperti daun jatuh tanpa beban,
aku belajar menjadi ringan.
Kini dunia tak lagi kelabu,
ada warna, ada pelangi baru.
Dengan menerima yang tak sempurna,
aku temukan damai — yang sesungguhnya.



Komentar