Dari siaga ke tenang ( seri penutup)
*Seri 3: dari siaga ke tenang. Seni mengelola psikosomatis
Saya bukan ahli.
Saya tidak sedang mengajar.
Saya hanya seseorang yang pernah hidup terlalu lama dalam mode siaga.
Awalnya saya pikir ini cuma soal pikiran.
Ternyata bukan.
Tubuh ikut bekerja keras:
saraf tegang, napas dangkal, hati selalu siap menghadapi bahaya yang belum tentu ada.
Di titik itu, saya baru paham:
overthinking bukan kesalahan berpikir, tapi bisa bikin tubuh kelelahan menjaga diri.
Saya mulai pelan-pelan.
Bukan dengan melawan pikiran, tapi dengan mengajak tubuh turun dari kewaspadaan berlebihan.
Saya pernah bertanya-tanya, mengapa tubuh bisa terasa sakit, meski hasil tes selalu "normal"? Mengapa jantung berdebar, kepala berat, perut mual, padahal tidak ada penyakit medis yang ditemukan?
Jawabannya ada pada sistem saraf: tubuh saya terlalu lama berada dalam *mode siaga*.
Aku nggak sembuh seketika.
Masih ada hari-hari naik turun.
Masih ada sensasi tubuh yang bikin khawatir.
Tapi satu hal berubah besar:
aku berhenti marah sama diri sendiri.
Saat cemas, overthinking, atau ketakutan pada sesuatu yang belum terjadi, tubuh menafsirkan itu sebagai ancaman. Maka syaraf simpatik aktif: napas jadi pendek, otot menegang, jantung berdetak cepat. Jika berlangsung terus-menerus, inilah akar dari *keluhan psikosomatis*.
Tapi kabar baiknya: sinyal itu bisa *dibalik*. Kita bisa membantu tubuh masuk ke *mode istirahat dan pemulihan melalui langkah kecil:
- *Tarik napas dalam, lalu embuskan perlahan*. Beberapa kali.
- *Sadari benda yang disentuh, suara yang terdengar, posisi tubuh*. Itu grounding.
- *Alihkan fokus dari ketakutan ke apa yang sedang kita lakukan sekarang*.
- *Berikan tubuh tanda-tanda keamanan*: rutinitas tenang, makanan hangat, gerakan lembut.
Saya sedang belajar memberi sinyal baru pada tubuh saya: bahwa tidak semua pikiran perlu diyakini, tidak semua kecemasan layak dituruti. Saat saya berhasil melakukannya, tubuh merespons—dengan rasa tenang, bahkan bahagia.
*Pemulihan bukan soal cepat atau lambat. Tapi tentang konsistensi memberi sinyal bahwa kita aman, saat ini.*
Dan mungkin yang paling penting aku pelajari adalah ini:
nggak semua yang terasa nggak nyaman harus langsung diperbaiki.
Ada yang cukup ditemani.
Ada yang cukup diakui.
Karena saat kita berhenti memaksa diri “harus kuat”, di situlah tubuh mulai percaya bahwa ia aman—dan pelan-pelan, siaga yang tak perlu itu mulai turun dengan sendirinya.
Serial ini bukan penutup, apalagi solusi untuk semuanya.
Ini baru pembuka wacana—bahwa apa yang kita rasakan layak didengar.
Selebihnya, tiap individu perlu masuk lebih dalam, dengan ritmenya sendiri.



Komentar