KOES PLUS kerumahku. Mengenang Dasa Warsa IPB 1973
Mengenang Dasawarsa IPB 1973
Tahun 1973 menjadi salah satu kenangan paling berkesan dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa IPB. Saat itu IPB merayakan Dasawarsa IPB dengan cukup gempita. Acara puncaknya adalah pelantikan mahasiswa baru yang akan dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto. Kehadiran Presiden tentu membuat seluruh rangkaian kegiatan harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.
Rektor IPB, AM Satari menunjuk kami berdua aku dan Sigit al untuk menjadi motor penyelenggaraan kegiatan. SIGIT sebagai ketua, saya sebagai wakil ketua. Banyak teman mengatakan bahwa bila kami sudah berduet, suatu acara bisa "menjadi-jadi". Maksudnya, selalu ada saja gagasan baru yang muncul, kadang di luar kebiasaan.
Kami ingin Dasawarsa IPB tidak hanya menjadi seremoni kampus. Karena itu lahirlah berbagai perlombaan yang saat itu mungkin belum pernah ada sebelumnya. Untuk olahraga, kami mengadakan turnamen bola basket dan bola voli putra-putri antar SMA se-Bogor. SMA Negeri 1, SMA Regina Pacis, dan banyak sekolah lainnya ikut meramaikan. Selain itu kami menyelenggarakan kompetisi sepak bola yang melibatkan seluruh kecamatan di KOTA Bogor. Untuk para karyawan, kami membuka pertandingan bulu tangkis dan tenis meja.
Saya bahkan sempat mengusulkan agar para peserta melakukan defile yang didahului oleh drumband Tarakanita. Saya sudah menghubungi pihak sekolah dan hampir saja terlaksana. Sayangnya usulan itu ditolak oleh Direktur Administrasi dan Keuangan IPB. Beliau menginginkan acara pembukaan didahului dengan pertunjukan adat Sunda. Baiklah, kami menerima keputusan itu dan menyesuaikan rencana. Toh semangat acaranya tetap terjaga.
Untuk pelaksanaan pertandingan, saya meminta bantuan KONI Bogor sebagai penyedia wasit sekaligus pendamping teknis penyelenggaraan. Dukungan mereka sangat membantu sehingga seluruh rangkaian pertandingan berjalan lancar dan meriah.
Namun kejutan terbesar justru kami siapkan untuk malam gembira. Kami berhasil mendatangkan grup musik legendaris Koes Plus serta penyanyi besar Titiek Puspa. Pada masa itu, rasanya sulit mencari nama yang lebih besar dari Koes Plus dan Titiek Puspa. Kehadiran mereka langsung membuat suasana heboh.
Ada pengalaman pribadi yang sampai sekarang masih saya ingat. Saya mendapat tugas menjemput Koes Plus menggunakan bus IPB di daerah Cipete, Jakarta. Setelah menjemput mereka, saya membawa mereka ke "rumah saya" sementara, yaitu rumah kakak ipar saya, Prof. Soewondo, yang saat itu sedang bertugas di Universitas Kebangsaan Kuala Lumpur. Karena rumah sedang kosong, saya bebas menggunakannya.
Bayangkan saja, seorang mahasiswa yang sejak usia belasan tahun mengagumi Koes Plus, tiba-tiba bisa menghabiskan waktu bersama para idolanya. Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, dan kawan-kawan duduk santai, berbincang, bahkan sempat saya ajak berkeliling lingkungan kampus IPB di Jalan Gunung Gede. Di sekitar Fakultas Peternakan masih ada kandang-kandang ternak yang menarik perhatian mereka.
Sayangnya zaman itu belum ada telepon genggam, apalagi kamera digital. Karena itu saya tidak memiliki satu pun foto bersama mereka. Kalau sekarang saya bercerita pernah menemani Koes Plus sekeluarga, orang mungkin hanya bisa menjawab, "Percaya saja, deh." Memang tidak ada bukti foto, tetapi kenangannya masih tersimpan jelas di kepala saya.
Malam hiburan berlangsung sukses besar. Gedung olahraga penuh sesak. Penampilan Koes Plus dan Titiek Puspa disambut luar biasa oleh para mahasiswa dan masyarakat Bogor. Perlombaan olahraga sukses, malam hiburan pun sukses. Rektor dan para pejabat kampus memberikan apresiasi kepada kami berdua atas kerja keras yang telah dilakukan.
Kini, puluhan tahun kemudian, saya sering berpikir bahwa mungkin sulit mengulang suasana seperti itu. Banyak tokoh yang terlibat sudah berpulang, termasuk Koes Plus dan Titiek Puspa. Namun kenangan Dasawarsa IPB 1973 tetap hidup dalam ingatan saya sebagai salah satu karya terbaik hasil kerja sama saya dengan Pak Sigit.
Dan sebenarnya, itu bukan satu-satunya karya duet kami. Masih ada majalah berita kampus, kegiatan alumni, reuni, dan berbagai program lainnya. Namun Dasawarsa IPB 1973 memiliki tempat tersendiri di hati saya. Sebuah masa ketika semangat muda, keberanian berkreasi, dan persahabatan berpadu menjadi kenangan yang tak pernah pudar.



Komentar