Membaca, Menulis, dan Jejak Kecil Kehidupan



Catatan Opa untuk Lima Cucuku dan Siapa Saja yang Mau Membacanya

Cucuku tersayang,

Hari ini Opa ingin bercerita sedikit tentang perjalanan hidup Opa, terutama tentang membaca dan menulis. Mungkin cerita ini tidak luar biasa, tetapi mudah-mudahan dapat menjadi kenangan dan pelajaran yang bermanfaat.

Ketika Opa masih duduk di SR (Sekolah Rakyat), yang sekarang disebut SD, Opa bersekolah di SR Antonius. Di sana ada pelajaran mengarang. Setiap kali ada karangan yang dianggap baik, guru akan membacakannya di depan kelas. Syukurlah, tulisan Opa cukup sering mendapat kesempatan itu. Bukan untuk membuat Opa sombong, tetapi justru membuat Opa semakin senang membaca dan menulis.

Tidak jauh dari rumah Opa di Matraman terdapat perpustakaan milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Banyak waktu Opa habiskan di sana. Opa membaca berbagai buku, mulai dari Siti Nurbaya, kisah-kisah petualangan karya Karl May seperti Winnetou dan Old Shatterhand, sampai banyak buku lainnya. Bahkan ketika sudah SMP, Opa masih sering datang ke perpustakaan itu.

Selain perpustakaan, di dekat rumah juga ada tempat penyewaan buku cerita silat. Nama-nama tokoh seperti Si Tiauw Hiap Lu, SiaTiang Eng Hiap, dan pendekar-pendekar lainnya menjadi teman masa kecil Opa. Dari situlah imajinasi dan kecintaan Opa terhadap cerita semakin tumbuh.

Saat SMA di Kanisius, tersedia perpustakaan sekolah yang sangat baik. Buku dapat dibaca di tempat maupun dipinjam. Pada masa itu Opa juga mengikuti kursus Bahasa Inggris di LIA, Jalan Pramuka. Ketika ada tugas mengarang dalam Bahasa Inggris, beberapa kali tulisan Opa kembali dibacakan di depan kelas untuk dibahas bersama. Pengalaman-pengalaman kecil seperti itu membuat Opa semakin percaya diri untuk menulis.

Waktu berlalu. Opa kemudian menjadi mahasiswa Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian (FATEMETA) di IPB. Di sinilah Opa mulai "berulah" dalam arti yang positif. Bersama beberapa teman, Opa mengajak menerbitkan majalah berita mahasiswa  "BERITA FATEMETA." Opa menjadi penanggung jawab sekaligus pemimpin redaksi. Majalah itu terbit setiap bulan dan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan serta informasi.

Pada masa kuliah itu pula Opa mendapat kesempatan mengikuti kursus jurnalistik yang diselenggarakan oleh Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia. Setelah menyelesaikannya, Opa bahkan memperoleh sertifikat wartawan. Rasanya bangga juga saat itu.

Tidak lama kemudian, bersama teman-teman, kami menerbitkan koran kampus IPB berbentuk tabloid. Kali ini Opa menjadi anggota dewan redaksi. Karena bukan memimpin redaksi. Opa justru punya lebih banyak waktu untuk turun ke lapangan, mencari berita, dan menulis berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kampus.

Setelah lulus kuliah dan memasuki dunia kerja, kegiatan menulis memang tidak lagi menjadi prioritas utama amin dlm tugas kerja banyak juga diminta presentasi teruta sekitar industri pengolahan dsging dan masalah umum yang akan dimuat di berbagai media sepertiedia Indonesia majalah Poultry dll. Kecintaan terhadap menulis tidak pernah benar-benar hilang. Bertahun-tahun kemudian, ketika Opa sudah memasuki usia lanjut, Opa kembali menulis artikel. Awalnya tulisan-tulisan itu dimuat di Kompasiana dan Indonesiana. Banyak pembaca yang memberi tanggapan. Bagi Opa, dimuatnya sebuah tulisan saja sudah menjadi kebahagiaan karena berarti tulisan itu dianggap layak dibaca orang lain.

Kemudian Opa membuat blog sendiri. Pembacanya memang tidak sebanyak media besar, tetapi beberapa tulisan tetap dibaca ratusan orang. Dari kumpulan tulisan itulah lahir buku pertama Opa. Dan pada awal Juni tahun ini, buku kedua Opa juga terbit.

Mengapa Opa menceritakan semua ini?

Karena Opa ingin menyampaikan satu hal sederhana. Dalam Al-Qur'an, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca: Iqra'. Membaca adalah pintu ilmu pengetahuan. Dari membaca kita belajar memahami dunia, memahami orang lain, dan memahami diri sendiri.

Menurut keyakinan Opa, ada tiga kemampuan dasar yang sangat penting dimiliki siapa pun: membaca, menulis, dan matematika. Membaca memperluas wawasan. Menulis membantu kita menyampaikan gagasan. Matematika melatih logika dan cara berpikir yang teratur. Ketiganya menjadi senjata penting untuk berpikir kritis.

Tidak semua orang akan menjadi penulis, wartawan, ilmuwan, atau profesor. Tidak semua gagasan yang kita tulis akan mengubah dunia. Namun dengan terus belajar, berpikir kritis, dan membagikan ide melalui tulisan, kita memberi kesempatan agar pengetahuan dan pengalaman kita bermanfaat bagi orang lain.

Kita tidak pernah tahu sejauh mana jejak yang akan kita tinggalkan. Tetapi selama masih bisa belajar, berpikir, dan berbagi, kita masih bisa memberi manfaat.

Itulah harapan Opa untuk kalian, cucu-cucuku. Bacalah lebih banyak daripada Opa. Belajarlah lebih tinggi daripada Opa. Dan jika suatu hari kalian memiliki pengalaman yang berharga, tuliskanlah. Sebab tulisan dapat membuat sebuah pikiran hidup jauh lebih lama daripada umur penulisnya.

Salam sayang,

Opa

Komentar

Postingan Populer