Ben Cao Tang
Ben Cao Tang 😄😄😄
Pagi itu aku berangkat ke Kelapa Gading.
Tujuannya bukan mal, bukan mencari diskon, bukan pula berburu kopi kekinian. Aku menuju sebuah tempat pengobatan tradisional Tionghoa. Namanya cukup gagah di telinga: Ben Cao Tang.
Mengapa aku tertarik?
Karena tubuhku dan obat-obatan modern akhir-akhir ini seperti pasangan yang sedang menjalani hubungan rumit.
Di satu sisi, obat nyeri membantu meredakan penderitaan akibat iritasi saraf dan kemungkinan saraf skiatika terjepit. Di sisi lain, setiap kali melihat hasil laboratorium, aku merasa ginjalku ikut mengeluh.
Aku jadi hafal istilah yang dulu terasa asing: kreatinin dan eGFR.
Katanya sederhana. Kreatinin naik, eGFR turun
eGFR normal berada di atas 80.
Aku pernah menyentuh angka 20.
Dua puluh!
Ibarat perjalanan hidup, itu bukan lagi lampu kuning. Itu sudah lampu merah yang berkedip-kedip.
Jika eGFR turun sampai sekitar 15, seseorang sudah masuk kategori gagal ginjal. Jadi ketika angka milikku pernah berada di 20, aku merasa hanya tinggal selangkah lagi dari jurang itu.
Saat masih memimpin Fatemanianplus Travel Lovers, aku sering berkata kepada teman-teman pancil ,
"Kalau suatu saat saya sakit, tolong lanjutkan ya."
Mungkin banyak yang mengira aku bercanda.
Padahal waktu itu dengan eGFR 20, aku punya alasan yang cukup kuat untuk mengucapkannya.
Syukur, dokterku termasuk orang yang bijaksana.
Beliau p berkata,
"Kalau Bapak bahagia bersama teman-teman, silakan ikut jalan-jalan. Justru bisa bikin lebih sehat Yang penting jaga makanan dan disiplin minum obat."
Dokter juga bicara bercanda jika dalam Rombongan ada yg mengesankan malah bisa tambah sakit lho
Aku mengikuti nasihat itu.
Dan hasilnya cukup menggembirakan
eGFR-ku sempat naik menjadi 30
Bahkan pernah menyentuh angka 40.
Aku mulai bernapas lega.
Namun hidup memang suka bermain ular tangga tanpa memberi tahu dulu.
Tiga minggu lalu hasil pemeriksaan menunjukkan angka itu turun lagi menjadi 30.
Karena itulah aku mulai berpikir keras.
Aku seperti menghadapi pilihan simalakama.
Dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati.
Obat-obatan nyeri membantu mengurangi penderitaan akibat saraf skiatika yang mungkin terjepit. Tetapi obat-obatan yang sama juga membuatku khawatir terhadap ginjal yang sudah lama tidak sehat.
Jika obat diteruskan, nyeri mungkin berkurang tetapi ginjal bisa semakin tertekan.
Jika obat dihentikan, ginjal mungkin lebih aman tetapi skiatika bisa kembali menyerang dengan ganas.
Aku seperti berada di persimpangan yang kedua jalannya sama-sama membuat waswas.
Karena itulah aku datang ke Bao Cen Tang.
Sinshe memeriksa nadiku.
Memegang pergelangan tangan beberapa saat.
Mengangguk.
Menghela napas.
Lalu mulai menyebut daftar penyakitku yang panjangnya hampir menyerupai daftar peserta sebuah rombongan wisata.
Aku mendengarkan dengan wajah serius.
Sampai akhirnya tibalah bagian yang paling penting.
Biaya.
Akupunktur Rp450.000 sekali datang.
Minimal lima kali.
Ditambah obat herbal sekitar Rp100.000 per hari.
Aku langsung menemukan kembali kesehatan dompetku.
Dan kesehatan dompet itu berkata,
"Pak, kita pulang saja."
😄😄😄
Saat itulah pikiranku melayang jauh ke Kunming.
Dulu ketika berwisata ke sana, selain menikmati alam dan kota tua, kami juga diajak mengunjungi beberapa pabrik suplemen dan pusat pengobatan tradisional.
Ada spirulina.
Ada astaxanthin.
Ada sinshe.
Aku bahkan sempat membeli astaxanthin yang harganya jutaan rupiah.
Bukan karena ikut-ikutan teman semata.
Saat itu aku juga sudah menjadi anggota klub tidak resmi para penderita osteoartritis.
Levelku sudah level 3.
Kata dokter, level 4 biasanya sudah mulai mengarah ke pertimbangan operasi.
Jadi ketika mendengar astaxanthin diklaim baik untuk mata dan persendian, aku tergoda juga.
Namanya orang yang lututnya mulai bernegosiasi setiap naik tangga.
Harapan sekecil apa pun terlihat menarik.
Maka melayanglah beberapa juta rupiah.
Sedikit gengsi.
Banyak berharap.
Namanya juga manusia.
😄😄😄
Namun pengalaman paling berkesan justru terjadi ketika aku berkonsultasi dengan seorang sinshe terkenal.
Beliau memeriksa nadiku.
Wajahnya makin lama makin serius.
Aku mulai khawatir.
Akhirnya beliau berkata,
"Kondisi Bapak cukup berat. Perlu ramuan khusus selama enam bulan."
"Berapa biayanya?" tanyaku.
"Seratus juta rupiah."
Aku hampir bertanya,
"Itu obatnya diminum atau dipakai membeli sepeda motor?"
😄😄😄
Beliau lalu menjelaskan bahwa kesehatan jauh lebih berharga daripada uang.
Aku setuju.
Seratus persen setuju.
Masalahnya saat itu aku memang punya uangnya, tetapi aku belum cukup yakin untuk mempertaruhkan seratus juta rupiah pada sesuatu yang belum benar-benar kupahami.
Beliau lalu memberi penawaran yang menurutnya lebih ringan.
"Tiga bulan saja. Lima puluh juta."
Aku tetap mundur teratur.
Kartu kredit mungkin sanggup.
Keberanianku yang tidak sanggup.
😄😄😄
Hari ini, setelah keluar dari Bao Cen Tang tanpa akupunktur, aku justru tersenyum.
Aku teringat perjalanan panjang tubuhku.
Ginjal yang naik turun.
Lutut osteoartritis.
Saraf yang kadang berulah.
Dan sederet hasil laboratorium yang sering membuat jantung ikut berdebar.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.
Mungkin hasil MRI membawa kabar baik.
Mungkin masih perlu pengobatan panjang.
Mungkin ginjal akan tetap bertahan.
Mungkin juga suatu hari harus menghadapi kenyataan yang lebih berat.
Terus terang, aku sudah mencoba berdamai dengan kemungkinan terburuk.
Mudah-mudahan tidak sampai terjadi gagal ginjal.
Tetapi rasa sakit akibat skiatika adalah sesuatu yang nyata dan terasa hari ini. Sementara ancaman gagal ginjal adalah bayangan yang selalu muncul dari angka-angka laboratorium.
Maka yang bisa kulakukan hanyalah berusaha memilih jalan yang paling masuk akal, mengikuti saran dokter, menjaga makanan, dan mengurangi risiko semampuku.
Aku juga mulai berpikir tentang herbal.
Bukan herbal ajaib.
Bukan yang menjanjikan kesembuhan dalam semalam.
Melainkan herbal yang terjangkau, terstandar, memiliki izin resmi, dan sebisa mungkin didukung bukti ilmiah yang baik.
Kalau ada sahabat yang mengetahui pilihan seperti itu, aku tentu bersedia mendengarkan.
Siapa tahu Allah menitipkan ikhtiar melalui jalan yang sederhana.
Dan untuk diriku sendiri aku berbisik,
"Tabahlah, Haniwar."
"Jangan terlalu takut pada hari esok."
"Hari ini masih ada untuk disyukuri."
Karena selama aku masih bisa berjalan, bercerita, tertawa mengenang Kunming, Ciwidey, Fatemanian, Travel Lovers, dan sahabat-sahabat yang baik, berarti harapan itu masih ada.
Dan bukankah hidup pada akhirnya memang bukan soal siapa yang paling sehat, melainkan siapa yang tetap mampu bersyukur ketika kesehatan tidak lagi sempurna?



Komentar