KERAJAAN BAWANG DAN PENGGILINGAN PADI
Kerajaan Bawang dan penggilingan padi
Di sebuah negeri jauh di balik kabut, berdirilah Kerajaan Bawang Raya. Raja Bawang, pemimpin negeri itu, terkenal bukan karena kebijaksanaannya, melainkan karena air matanya. Setiap kali berpidato, ia selalu menangis. Rakyat awalnya mengira ia pemimpin berhati lembut, tapi kemudian sadar: tangisannya bukan karena sedih, melainkan karena gudang istana penuh bawang yang membuat matanya perih.
Di sisi lain negeri, berdiri Menara Padi Emas. Sebuah penggilingan raksasa berputar tanpa henti, menghasilkan dua triliun keping emas setiap bulan. Rakyat bersorak setiap kali mendengar angka itu, tapi sorakan mereka cepat berubah jadi bisikan: “Mengapa nasi kami tetap basi, padahal emas menumpuk di menara?”
Suatu hari, para pekerja padi memberanikan diri menghadap Raja Bawang. Dengan mata merah dan hidung meler, sang Raja berkata, “Rakyatku, jangan khawatir! Aku punya solusi. Mulai sekarang, setiap rumah wajib menanam bawang. Kalau halaman sempit, tanamlah di pot bunga, ember bekas, atau sepatu tua. Dengan begitu, kita semua bisa menangis bersama, dan tidak ada yang merasa sendirian!”
Rakyat pun patuh, meski bingung. Kota berubah jadi ladang bawang. Anak-anak sekolah membawa bawang sebagai bekal, pedagang pasar menjual “Bawang Premium” dan “Bawang Sultan,” bahkan ada yang membuka warung “Es Bawang Segar.” Air mata rakyat mengalir deras, membentuk sungai bawang yang bisa dipakai untuk mandi gratis. Ada yang bercanda, “Kalau begini, kita bisa bikin bendungan air mata untuk listrik!”
Namun rakyat tak kehabisan akal. Mereka mulai menjual bawang ke kerajaan tetangga yang tak pernah punya bawang. Kerajaan tetangga membayar mahal, menukar bawang dengan nasi pulen dan lauk lezat. Rakyat pun tertawa: “Sedih di mata, bahagia di perut. Lengkap sudah hidup kita!”
Raja Bawang marah besar. “Bagaimana mungkin rakyatku tertawa tanpa aku?” katanya. Ia pun mengeluarkan titah baru: “Mulai sekarang, setiap tawa rakyat harus dibayar pajak!” Tapi rakyat sudah terlalu pintar. Mereka menertawakan pajak itu, lalu menjadikannya bahan lelucon. Pajak tawa justru membuat mereka tertawa lebih keras, sampai seluruh negeri bergema oleh suara bahagia.
Akhirnya, Raja Bawang menyerah. Ia duduk di singgasananya sambil menangis, kali ini bukan karena bawang, melainkan karena sadar: rakyatnya lebih cerdas darinya. Namun rakyat tidak marah. Mereka justru menjadikan semua kebijakan absurd itu sebagai cerita turun-temurun.
Sejak saat itu, Kerajaan Bawang Raya dikenal sebagai negeri di mana orang bisa menangis dan tertawa sekaligus. Dan dari situlah lahir pepatah terkenal: “Air mata bisa jadi sungai, tapi tawa selalu jadi jembatan.”



Komentar