Mimpiku tentang Pak Prabowo
Mimpi ku tentang Pak Prabowo
Tadi malam aku bermimpi.
Dalam mimpi itu, Prabowo Subianto berdiri di sebuah ruang luas—penuh peta, angka, dan rencana besar untuk negeri ini. Wajahnya tegas, penuh niat baik, ingin membawa Indonesia melompat jauh ke depan.
Tapi di sekelilingnya… terlalu banyak suara yang hanya berkata, “sudah benar, Pak,”
terlalu banyak yang pandai memuji, tapi miskin keberanian untuk meluruskan.
Lalu datang seorang yang sederhana. Bukan pejabat. Bukan orang besar. Tapi kata-katanya jernih.
Ia tidak memuji. Ia juga tidak menyerang.
Ia berkata langsung:
“Pak Prabowo, gagasan besar Anda sudah tepat… tapi akan jadi jauh lebih hebat jika berani diperbaiki.”
Ruangan itu mendadak hening.
“Program makan bergizi… jangan sekadar luas. Harus tepat sasaran. Fokus pada yang benar-benar miskin, dengan standar nutrisi yang benar.
Jalankan sebagai dedikasi sosial—bukan ladang keuntungan, bukan ruang bagi mereka yang mengejar uang dengan angka fantastis. Banyak masih idealis yang mau kerja benar
Prabowo terdiam. Mendengar.
“Koperasi desa… jangan dibentuk dari atas dengan angka triliunan yang kaku. Bangun dari bawah. Sadarkan warga desa untuk berusaha kooperasi. Negara hadir bukan untuk mengontrol apalagi memaksa , tapi memotivasi. Menggerakkan usaha hulu hilir misal bangun jalan ke pasar, sediakan gudang dengan sistem resi, perbaiki irigasi, bantu proses nilai tambah. Biarkan desa hidup dengan kekuatannya.”
Tentara jangan suruh bertani tapi bisa bantu bangun prasarana tsni
Suasana makin dalam.
“Pendidikan… tidak perlu menciptakan ‘sekolah rakyat’ baru, ada sekolah eksisting bisa di tingkatkan mutu nya . Beri anak-anak miskin akses ke sekolah terbaik—beasiswa, asrama, dari sekolah eksisting dengan mutu yang diperbaiki. Itu lebih cepat, lebih adil, dan lebih bermartabat.”
Orang itu menatap langsung ke mata Prabowo.
“Sejarah akan mencatat Anda bukan hanya karena ide besar… tapi karena keberanian Anda mendengar saran yang lebih benat
Hening.
“Singkirkan para penjilat ABS yang hanya mengiyakan tanpa berpikir. Mereka bukan membantu, mereka menyesatkan.”
Udara terasa berat, tapi jujur.
“Negeri ini akan maju, Pak… jika yang didengar bukan yang paling manis, tapi yang paling benar.”
Dan anehnya… Prabowo dalam mimpiku tidak marah.
Ia justru terlihat seperti menemukan sesuatu yang selama ini samar—sebuah kejujuran yang langka.
Aku terbangun.
Dengan satu rasa yang tertinggal:
Andaikan… benar ada orang bijak yang mampu menyampaikan semua itu dengan keberanian dan keindahan seperti dalam mimpi itu. Dan dapat meyakinkan pak Prabowo sehingga didengar dilaksanakan
Mungkin… negeri ini benar-benar bisa melompat lebih jauh menuju indonesia emas



Komentar