Opportunity cost MBG
Opportunity Cost MBG
Anggaran sebesar Rp350 triliun per tahun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah angka yang fantastis. Dalam ilmu ekonomi, setiap rupiah yang dibelanjakan memiliki opportunity cost atau biaya peluang—potensi keuntungan yang hilang dari alternatif penggunaan dana tersebut. Jika kita membedah angka ini, muncul pertanyaan mendasar: Apakah ada skenario alokasi yang mampu menghasilkan dampak produktivitas jangka panjang yang lebih masif bagi Indonesia?
1. Efisiensi MBG: Fokus pada Target, Bukan Populis
Jika fungsi utama MBG adalah intervensi kesehatan, maka pendekatan berbasis target (targeted approach) jauh lebih efisien. Dengan mengalokasikan sekitar Rp80 triliun, pemerintah sebenarnya sudah bisa mengintervensi seluruh anak dengan kategori kurang gizi dan stunting di Indonesia secara komprehensif.
Sisa dana sebesar Rp270 triliun inilah yang menjadi "peluru perak" untuk pembangunan infrastruktur dan industri yang selama ini terkendala biaya.
2. Menghubungkan Indonesia: Whoosh ke Surabaya dan Kereta Luar Jawa
Infrastruktur transportasi adalah kunci efisiensi logistik. Dengan sisa anggaran tersebut, pemerintah bisa:
- Memperpanjang Kereta Cepat (Whoosh) hingga Surabaya: Ini akan memangkas waktu tempuh dan mengintegrasikan ekonomi Pulau Jawa secara total, menciptakan efisiensi yang luar biasa bagi pelaku usaha.
- Membangun Jaringan Kereta Api di Luar Jawa: Membangun jalur kereta api di Kalimantan, Sulawesi, atau Papua akan memecah ketergantungan pada transportasi jalan raya yang mahal dan merusak lingkungan, sekaligus menurunkan harga komoditas di wilayah Timur.
3. Konektivitas Jalan Negara Non-Tol
Selama ini pembangunan masif terjadi di jalan tol, namun jalan negara non-tol yang menjadi urat nadi angkutan logistik rakyat seringkali terabaikan. Memperbaiki dan memperlebar jalan negara di seluruh pelosok Indonesia akan langsung menurunkan biaya perawatan kendaraan dan mempercepat arus barang dari desa ke kota tanpa membebani rakyat dengan tarif tol.
4. Revolusi Hunian: Prefabrikasi Perumahan Rakyat
Salah satu masalah terbesar di Indonesia adalah backlog perumahan. Sebagian dari dana Rp350 triliun bisa dialokasikan untuk industri perumahan rakyat berbasis teknologi prefabrikasi (prefab).
- Kecepatan: Rumah bisa dibangun dalam hitungan hari.
- Biaya Terjangkau: Produksi massal menurunkan harga secara signifikan.
- Kualitas Standar: Teknologi ini memastikan hunian layak huni yang sehat, yang pada akhirnya juga berkontribusi pada kesehatan publik secara jangka panjang.
Kesimpulan: Produktivitas vs Konsumsi
Program MBG memang memiliki niat mulia untuk investasi SDM. Namun, memberikan makanan adalah aktivitas konsumsi yang sifatnya berulang. Sementara itu, membangun infrastruktur transportasi dan perumahan adalah investasi aset produktif yang memiliki multiplier effect (efek pengganda) terhadap lapangan kerja dan efisiensi nasional selama puluhan tahun ke depan.
Kebijakan yang paling bijak bukanlah memilih salah satu, melainkan menyeimbangkan keduanya: Mencukupi gizi mereka yang membutuhkan, dan mengalihkan sisanya untuk membangun fondasi fisik bangsa.
Ini hanya contoh opportunity yg diyakini masih bisa diperluas dengan tetap bisa beri makan ansk kurang gizi seperti arahan Presiden


Komentar