Korporasi Tani dan Rantai Pasok Fondasi Majukan Pertanian

Oleh Haniwar Syarif, pemerhati pertanian





Kemajuan pertanian tidak cukup hanya diukur dari panen yang melimpah. Justru, persoalan utama petani kecil sering muncul setelah panen: harga jatuh, hasil tak terserap, kualitas merosot karena minim fasilitas penyimpanan. Semua ini berpangkal pada rantai pasok yang belum tertata. Dan belum banyak terbentuk korporasi dalam usaha tani. Petani gurem belahan dibawah 0.5 ha  menurut survey BPS 2023  berjumlah17. 242.542


Rantai pasok pertanian sejatinya mencakup seluruh proses, mulai dari pasokan bahan baku, lahan hingga  produk sampai ke tangan konsumen. Itu berarti, membangun pertanian juga berarti membangun gudang, pengering, jalan tani, sistem logistik, pasar dan bahkan pasar digital.


Peran pemerintah mutlak diperlukan. Infrastruktur dasar seperti jalan dari lahan pertanisn ke pasar  harus ada  agar hasil panen cepat sampai ke gudang atau pasar. Sistem resi gudang perlu dikembangkan supaya petani tidak terpaksa menjual saat harga rendah. Pemerintah daerah juga bisa menginisiasi pasar tani di kota-kota terdekat, sehingga petani atau koperasi punya akses langsung ke konsumen.


Tak kalah penting, pameran hasil pertanian di berbagai daerah dapat membuka jaringan pasar baru. Pihak industri olahan hasil pertanisn dijembatani membuat kontrak dengan korporasi tani. Juga  dengan pasar rantai ritel dan toko online. Melalui itu, petani belajar meningkatkan kualitas kemasan, teknik promosi, hingga memanfaatkan platform digital  memenuhi spesifikasi. Jumlah maupun harga. untuk menjangkau pembeli lebih luas.


Namun, keadilan dalam perdagangan   fair trade, harus dijaga. Petani kecil tidak boleh dikuasai oleh segelintir pengusaha besar. Prinsip fair trade harus ditegakkan: harga wajar, pembayaran tepat waktu, kontrak transparan. Di titik inilah petani sebaiknya membentuk  korporasi sehingga  bisa menjadi seimbang disamping adanya aturan membuat perjanjian dagang yang saling menguntungkan. 


Putra daerah, anak muda, dan alumni pertanian punya peran vital: mendampingi proses digitalisasi, memperkuat sistem, serta memperluas jaringan pasar. Dengan rantai pasok yang dikelola secara kolektif, usaha tani atau ternak tidak sekadar bertahan, tapi bisa tumbuh dan sejahtera.


Ada satu hal krusial yang sering dilupakan: bagaimana memastikan hasil panen sampai ke konsumen dengan nilai yang adil dan tanpa banyak kerugian.


Masalah klasik yang terus berulang adalah ketidakstabilan harga dan pasokan akibat minimnya aliran informasi antara petani dan pasar. Misalnya, saat cabai melimpah harga langsung anjlok. Tahun berikutnya petani enggan menanam, lalu harga melambung. Siklus ini merugikan semua pihak.


Akar persoalannya adalah rantai pasok yang belum terintegrasi. Tanpa gudang penyimpanan, pengolahan pascapanen, dan distribusi yang efisien, hasil panen mudah rusak sebelum sampai pasar. Ditambah, petani yang berjalan sendiri-sendiri kehilangan daya tawar.


Solusinya adalah penguatan korporasi petani. Kelembagaan yang mampu mengelola rantai pasok dari hulu hingga hilir, didukung teknologi untuk mengakses informasi pasar secara real time dan infrastruktur yang memadai. Serta calon konsumen harus dapat mengakses stok yang dimiliki Korporasi petani. Juga harus ada fasilitas pengiriman yang cepat.

Dengan begitu, petani dapat merencanakan produksi sesuai permintaan dan menjual dengan harga lebih adil. 


Pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha harus bersinergi membangun ekosistem ini. Karena pada akhirnya, petani tangguh bukan hanya yang pandai bertani, tetapi juga yang berdaulat atas rantai pasoknya. Dan petani nya yang mempunyai lahan  dibawah  0.5 ha harus  bergabung membentuk  korporasi. Dengan kedua fondasi itu maka pertanian akan bisa maju dan petani sejahtera dan konsumen mendapat kebutuhannya dengan hara wajar dan nurun serta harga yang wajar

Komentar

Postingan Populer