Teriakan anak negeri

 *Negeri Teriakan, Negeri Tertinggal*






Di sudut toko yang sepi,  

seorang pengusaha berdiri,  

bukan karena malas atau lupa inovasi,  

tapi karena suara—tak cukup jadi solusi.  


Ia teriak, "Omzet turun!"  

sementara rak-rak penuh barang lokal yang tak laku,  

sedang produk asing, melaju,  

mulus menembus dompet-dompet yani kian pilu.  


Mereka—datang dari negeri jauh,  

membawa strategi, bukan hanya mimpi,  

dengan value chain yang rapi,  

dan supply chain yang terkunci dalam kendali sendiri.  


Produknya murah,  

cukup berkualitas untuk memikat,  

dan mereka tak bicara banyak,  

mereka bekerja, mencipta, menembus pasar tanpa cela.  


Sementara kita?  

Terperangah,  

mengeluh di balik meja rapat,  

dalam negeri di mana gaji pejabat  

melampaui nalar dan rasa hormat.  


Di sini hidup makin susah,  

harga naik, mimpi runtuh,  

dan suara rakyat hanya jadi latar,  

di pesta besar para penguasa yang tak pernah lapar.

Komentar

Postingan Populer