Derita dari Sumatra yang terkoyak

 *Puisi: Derita dari  Sumatra yang Terkoyak*



Bencana, katanya datang tiba-tiba,  

Seperti hujan yang jatuh tanpa aba-aba.  

Tapi kita tahu, itu bohong belaka—  

Ia lahir dari tebang hutan yang rakus,  

Dari tambang yang menggerogoti nadi bumi tanpa ampun.  


Di Aceh, Sumut, hingga ranah Minang,  

Air tak lagi sahabat—ia menjelma murka.  

Dusun-dusun lenyap digulung arus,  

Rumah hanyut, ladang tertimbun,  

Dan yang paling pedih: nyawa-nyawa tercabut tanpa pamit.


442 jiwa takkan kembali,  

Bukan angka—tapi ayah, ibu, anak, dan saudari.  

Yang kini tinggal duka dan sunyi  

Dan pemerintah?  

Mereka hitung anggaran, bukan air mata.


Indomaret dijarah, katanya itu kriminal,  

Tapi siapa yang bersalah—yang lapar atau yang lalai?  

Apakah mereka pencuri…  

atau korban yang tak kebagian nasi?


Yang menangkap, mungkin tak pernah lihat  

Anak kecil menggigil kelaparan di tikar basah,  

Ibu yang memeluk perut kosong sambil berdoa  

agar hujan reda dan nasi datang.


Namun negeri ini…  

seolah terbiasa menyaksikan derita jadi berita,  

dan luka jadi angka.


Bencana bukan takdir semata,  

Ia jerit alam yang diabaikan manusia.  

Jika kita masih diam…  

maka air akan terus menggenang,  

dan air mata akan terus berlinang.

Komentar

Postingan Populer