KERETA LOGISTIK KUNCI KETAHANAN PANGAN
Kereta Logistik Kunci Ketahanan Pangan
Di tengah krisis global—mulai dari perubahan iklim, lonjakan biaya logistik, hingga ancaman kelangkaan pangan—Indonesia membutuhkan terobosan nyata dalam sistem distribusi. Salah satu solusi yang kerap terabaikan namun sangat potensial adalah penguatan logistik berbasis kereta api. Moda ini bukan hanya efisien dan ramah lingkungan, tetapi juga bisa menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.
Distribusi: Jantung Ketahanan Pangan. Panen melimpah tak berarti jika hasil pertanian membusuk di jalan karena keterlambatan pengiriman atau biaya logistik yang mahal. Distribusi yang cepat, murah, dan terjadwal adalah kunci agar petani sejahtera dan konsumen mendapat produk segar dengan harga terjangkau.
Keunggulan Kereta Api dalam Logistik Pangan antara lain
-: Kereta tidak terjebak macet seperti truk, sehingga pengiriman lebih terjadwal dan efisien.
- Biaya per ton-kilometer jauh lebih murah dibanding moda jalan raya, terutama untuk jarak menengah hingga jauh.
- Menjaga kesegaran produk perlu Gerbong berpendingin ( _refrigerated railcars_) memungkinkan pengiriman sayur, buah, dan daging dalam kondisi segar.
- Distribusi yang lancar mencegah kelangkaan dan fluktuasi harga ekstrem di pasar.
Meski PT KAI menargetkan 70% pendapatan dari angkutan barang, kenyataannya jalan raya masih dibanjiri truk. Ini membebani infrastruktur, memperlambat distribusi, dan menyumbang pada biaya logistik nasional yang mencapai 23% dari PDB—jauh lebih tinggi dibanding negara maju.
Sementara itu kita bisa Belajar dari negara lain. Di Jepang Distribusi hasil pertanian dari Hokkaido ke Tokyo bisa dilakukan dalam hitungan jam.. Korea Selatan, KORAIL mengintegrasikan logistik pangan dengan sistem pendingin. Malaysia, Membangun _cold chain rail logistics_ untuk ekspor durian dan hortikultura. Eropa, Terminal intermodal dan subsidi rel mendukung distribusi lintas negara. Amerika Serikat, Kereta barang mendistribusikan hasil pertanian skala besar dari Midwest ke pelabuhan ekspor
Saatnya bagi Indonesia untuk bangun terminal logistik pangan di stasiun: dilengkapi _cold storage_, _loading unloading dock_, dan sistem pelacakan digital.
- Kembangkan gerbong berpendingin dengan berbagai rentang suhu (chilled & frozen).
- Hubungkan jalur rel ke sentra produksi pertanian dan pelabuhan ekspor
- Integrasikan sistem multimoda* kereta sebagai tulang punggung, truk untuk distribusi lokal. Dimana produk pangan dijemput dari pabrik olahan pangan atau pusat ladang pertanian dan dikirim ke gudang distribusi bahkan pelabuhan ekspot
- Libatkan BUMDes dan koperasi tani ke dalam sistem distribusi berbasis rel untuk memperpendek rantai pasok.
Dampak Nyata bagi Petani dan Konsumen adalah bahwa petani mendapat harga lebih baik karena produk cepat sampai dan tidak rusak.
- Konsumen menikmati harga stabil dan produk segar.
- Negaramenghemat biaya logistik dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
- Lingkungan lebih terjaga karena emisi karbon lebih rendah.
Ketahanan pangan bukan hanya soal menanam, tapi juga soal mengirim. Jika kita ingin Indonesia makmur, petani sejahtera, dan rakyat kenyang dengan harga terjangkau, maka kereta api harus menjadi tulang punggung logistik pangan nasional.
Saatnya kita membangun kesadaran dan mendorong kebijakan yang berpihak pada efisiensi, keberlanjutan, dan kemakmuran bersama—lewat rel yang menghubungkan ladang ke pasar, dan petani ke masa depan yang lebih cerah.
-



Komentar