Adikku pergi terlalu cepat
Adikku pergi terlalu cepat
Siang itu langit seperti biasa, tapi hidupku tidak lagi biasa. Di depan rumah, aku berdiri sambil menatap kosong, mencoba memahami kenyataan yang tak masuk akal: adikku telah tiada. Pagi tadi masih bersama dirumah sebelum dia kesekolah dan Aku sudah libur karena lulus ujian SR. Tapi Kini tubuh mungilnya terbaring kaku di ruang tengah.katanya sudah meninggal karena kecelakaan
. . Aku ga bisa mencerna itu.tidak bisa memahami adik sudah tiada Paling adikku sedang tidur siang.
Seorang sahabat dekat adikku datang berlari kecil, wajahnya cerah, belum tahu apa-apa.
“Iras ada?” tanyanya polos.
“Ada… tapi sudah meninggal,” jawabku datar. Entah kenapa ucapanku tak punya rasa.
Dia mengerutkan kening, marah. “Jangan bercanda begitu!” katanya keras.Aku cari sendiri kedalam.
Lalu tanpa perdulikan aku lagi. ia masuk rumah seperti biasa dilakukan jika cari temannya .
Tak lama kemudian, terdengar tangis meledak dari dalam. Lalu tampak dia berlari keluar, terisak, tanpa memyapaku. Tapi aku tetap diam. Bahkan tak mengejarnya. Aku juga tidak menangis. Entah mengapa. Rasanya aneh. Seolah jiwa belum ikut pulang ke tubuhku.
Peristiwa itu terjadi pada 30 Juni 1960. Aku adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Keenam kakakku usianya jauh di atasku, dan hanya adikku—Iras—yang benar-benar seumuran denganku.
Kami hanya terpaut 17 bulan. Kakakku yang paling dekat umurnya pun berjarak 37 bulan, jadi tak heran kalau Iras menjadi teman terdekatku: main bersama, berkelahi, berdamai, tidur satu ranjang, dan sekolah di tempat yang sama.
Aku kelas enam SR, dia kelas empat. Setiap pagi kami berangkat bersama tapi pulang dengan teman kelas masing masing. Tapi Iras tetap lebih dari sekadar adik. Dia adalah temanku—teman masa kecil dalam arti sesungguhnya. Bermain bersama. Terkadang bertengkar pasti nya tidur bukan hanya sekamar tapi juga satu tempat tidur besar
Hari itu adalah hari terakhir sekolah sebelum libur akhir tahun. Malam sebelumnya kami masih tidur bersama seperti biasa. Aku bangun agak siang, karena aku sudah libur—sudah lulus dari SR—sementara Iras masih masuk sekolah. Waktu aku sarapan, Ayah mengajakku naik mobil—mengantar undangan khitanan Iras ke beberapa kenalan. Acaranya rencananya akan digelar tanggal 3 Juli. Entah mengapa Ayah mengajakku saat itu—biasanya tidak.
Ketika kami pulang dan mobil masuk ke halaman rumah, tetangga sebelah datang tergesa mendekati Ayah. Ia berkata, “Iras kecelakaan.” Aku tidak paham maksudnya. Ayah juga diam saja, kami melangkah cepat masuk rumah.
Begitu kami masuk, suara tangis histeris langsung menyambut kami. Ibuku berteriak menyebut nama adikku:
“Iras… Iras sudah meninggal…”
Aku tidak mengerti. Otakku menolak menerima informasi itu. Malam tadi kami masih tidur bersama. Baru tadi pagi dia berangkat sekolah. Kami masih punya rencana. Dia akan dikhitan. Akan libur panjang. Akan bermain lebih lama.
Bagiku, Iras masih hidup. Aku masih punya adik.
Lalu cerita kembali ketika aku berdiri tercenung sendiri di depan rumah dan teman adikku datang. Lalu pergi berlari menangis
Kemudian tamu brrdatangan
Rumah mulai ramai. Tangis di mana-mana. Tapi aku tetap diam. Tidak bisa menangis, karena aku tidak tahu harus merasa apa. Rasanya harus tidak mungkin adikku sudah tiada. Pasti lagi berada disuatu tempat dia biasa main
Tamun berdatangan, menjabat tanganku. Atau memelukku Aku membalas, seadanya. Mereka saudara, tetangga, atau mungkin teman ayah. Yang kutahu hanya satu: ibuku menangis terus. Dan aku? Aku tidak tahu harus merasa apa.
Seseorang menarikku mendekat ke bundaku. “Ini kan ada putranya lain. Niwang, Bu… jangan terlalu sedih,” katanya membujuk bunda. . Tapi aku hanya berdiri. Tak bicara. Tak tahu kenapa aku harus ada di situ. Tidak ada yang benar-benar terasa nyata.
Salah satu kakakku bahkan datang padaku dan berkata, “ ikut prihatin ya…” Seperti dia orang asing karena kakak yang terlalu jauh jarak usianya tak pernah benar-benar bermain denganku — apalagi dengan adikku. Aku dan adik adalah satu-satunya teman bagi satu sama lain. Kakakku sadar akulah yang benar kehilangan
Malam itu tiba. Rumah masih penuh suara orang dewasa bercakap, membaca doa, kadang menangis. Tapi aku duduk saja, diam, tidak tahu apa yang harus kupikirkan. Tidak bisa tidur, tidak bisa menangis, tidak juga bicara. Makan terasa seperti duri. Minum serasa menelan sekam. Dunia yang kuanggap aman dan biasa… berubah tanpa permisi.
Pagi esoknya, sebelum jenazah adikku dimakamkan, datanglah teman-teman sekolahnya — juga teman-temanku — beserta para guru dan kepala sekolah. Sekolah kami adalah SR Antonius, sekolah Katolik tempat aku dan adikku belajar meskipun kami beragama Islam. Aku masih ingat, kepala sekolah kami, Bruder Baptis, mendekatiku dan bertanya pelan, apakah boleh mereka berdoa untuk adikku sesuai kepercayaan mereka. Ia meminta izin kepada ayahku. Ayahku mengangguk dan mengizinkan.
Itulah pelajaran pertama yang kuingat tentang toleransi dan kasih lintas iman. Doa yang tulus, menurut ayahku, selalu punya tempat di sisi Tuhan, apapun jalan yang ditempuhnya.
Tapi di dalam diriku, aku masih belum bisa mengerti. Kata "meninggal" tak punya makna. Bagiku, adikku masih ada — mungkin sedang mandi, tidur, atau bermain entah di mana. Apa pun... asal bukan tiada.
Rombongan kepanduan dari sekolah kami datang mengenakan seragam lengkap. Gagah, rapi. Mereka mengawal jenazah adikku, karena adikku memang anggota aktif kelompok kepanduan itu. aku tidak ikut kepanduan. Aku hanya menyaksikan, diam.
Sampai akhirnya... saat jasadnya diturunkan ke liang lahat.
Di situlah aku pecah. Tangisku meledak, tubuhku meronta. Aku tak terima. Kenapa dia dimasukkan ke dalam tanah? Itu bukan tempatnya. Itu teman mainku… itu teman tidurku… itu adikku satu-satunya. Kenapa harus masuk bumi?
Baru saat itu, aku sadar… dia benar-benar pergi. Dia tidak lagi dikamar tidur atau kamar mandi. Dia didalam bumi
Dan setelah itu, semuanya terasa kosong. Hampa.
Tapi satu hal tertinggal dan menetap dalam diriku: rasa simpati mendalam pada siapa pun yang kehilangan orang tersayang secara tiba-tiba — terutama karena kecelakaan. Meninggal tanpa pamit, tanpa sempat bicara terakhir, tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan. Luka semacam itu... tidak mudah sembuh. Mungkin tak pernah benar-benar sembuh.
Adikku meninggal sepulang sekolah. Dia diajak oleh sepupu kami untuk mencukur rambut — karena tiga hari lagi dia akan dikhitan. Katanya supaya tampil lebih keren. Tapi di jalan, motor yang mereka tumpangi bertabrakan dengan truk besar. Adikku meninggal di tempat. Sepupu kami sempat koma, dirawat lama, tapi akhirnya selamat.
Kehilangan seseorang yang kita cintai selalu menyakitkan. Tapi kehilangan yang datang begitu mendadak — tanpa tanda, tanpa pamit — meninggalkan luka yang jauh lebih dalam. Rasanya sulit dipercaya, sulit diterima. Apalagi ketika beberapa jam sebelumnya masih tertawa bersama, lalu tiba-tiba… hanya diam dan sunyi yang tersisa.
Waktu memang tidak bisa menghapus kenangan, tapi ia bisa menenangkan luka. Perlahan-lahan, aku belajar menerima kenyataan itu. Bahwa adikku memang telah pergi. Bahwa hidup harus terus berjalan. Dan bahwa setiap kehilangan mengajari kita satu hal: betapa berharganya waktu yang kita punya bersama orang-orang tercinta.
Setiap kali aku mendengar kabar pesawat jatuh, kecelakaan besar, atau orang yang tiba-tiba tiada, hatiku selalu teringat pada hari itu — hari saat aku kehilangan adikku. Aku membayangkan perasaan keluarga mereka yang ditinggalkan. Rasa kosong, syok, tak percaya, seperti dunia mendadak runtuh. Aku tahu rasanya.
Tapi sebagai manusia beriman, aku percaya: tidak ada yang kebetulan. Semua telah tertulis. Mereka yang lebih dulu pulang, telah menuntaskan tugasnya di dunia. Kini mereka ada di tempat terbaik, insya Allah. Dan bagi kita yang masih diberi napas, kehilangan itu menjadi pengingat… bahwa hidup ini sementara, dan kita pun akan menyusul.



Komentar